Sekolah

Terima Rapor Sekolah Dasar di Jerman

Terima rapor SD di Jerman berbeda dengan di Indonesia. Di kelas tiga SD anak-anak di Jerman baru memperoleh nilai di rapor. Di kelas satu dan dua anak-anak belum mendapat nilai di rapornya. Wali kelas membagikan rapor langsung ke murid-murid di kelas.


Hai teman pembaca Michdichuns!

Tahun ajaran 2023/2024 ini anakku naik ke kelas tiga. Di kelas tiga ini untuk pertama kalinya ia akan memperoleh nilai di rapornya.

Sebagai ibu yang agak lebay tentu aku kepikiran nilai anak sulungku itu dari awal semester. Apalagi anakku itu termasuk santai dibandingkan dengan diriku dulu saat masih memakai seragam merah putih.

Sistem rapor di Jerman ini berbeda dari Indonesia. Mulai bentuk fisik rapornya saja sudah beda. Cara guru mengisi serta pembagiannya setiap hari penerimaan rapor pun tidak sama.

Sistem yang berbeda ini membuatku perlu beradaptasi dan merubah mindset yang sudah terlanjur terpatri sistem Indonesia. Untungnya disini ada banyak ibu-ibu Indonesia lainnya yang bisa ditanyai mengenai hal ini.

Terima Rapor Sekolah Dasar di Jerman

Dari zaman anakku masuk Krippe kemudian Kindergarten sampai akhirnya di sekolah dasar ia tidak pernah mendapat rapor yang bentuk fisiknya menyerupai rapor yang ada di Indonesia. Memang benar bahwa beda negara ya beda pula sistem yang berlaku di dalamnya.

Waktu Krippe dan Kindergarten tidak ada yang namanya buku rapor maupun rapor yang modelnya kartu dilipat seperti zamanku kecil dulu. Adanya pertemuan orang tua murid dan guru penanggung jawabnya. Di pertemuan ini guru akan menjabarkan hasil pengamatan terhadap tumbuh kembang anak di sekolah.

Ketika anakku masuk SD baru ia merasakan yang namanya pembagian rapor. Itupun cara pembagiannya tidak sama dengan di Indonesia.

Di sini, pada hari yang ditentukan rapor tidak dibagikan ke orang tua murid. Wali kelas akan membagikan rapor ke anak-anak di dalam kelas. Tidak ada satupun orang tua yang hadir mendampingi seperti di Indonesia.

Hari itu, yang disebut sebagai Zeugnistag, anak-anak akan pergi ke sekolah seperti biasanya di pagi hari. Yang membedakan dengan hari sekolah lainnya adalah hari itu anak-anak pulang lebih awal.

Kegiatan belajar mengajar hari itu, menurut anakku, biasanya tetap diadakan saat pengambilan rapor semester satu. Walaupun belajarnya tidak sama seperti hari biasa.

Orang tua murid hanya menunggu di depan gerbang sekolah, menjemput anak-anak pulang sekolah. Tidak ada pengumuman juara kelas dan tatapan bangga orang tuanya. Tidak ada pengumuman siapa yang berprestasi di sekolah, pembagian piala dan tepukan dari orang tua. Tidak ada anak yang ketakutan karena orang tuanya kecewa dengan nilai anaknya.

Saat aku kecil dulu, aku membayangkan berada di posisi ibu. Aku mengambil rapor anakku, bertemu dengan wali kelasnya, membicarakan anakku di depannya. Aku juga membayangkan nama anakku tertulis di papan tulis seperti ibuku melihat namaku disana.

Disini tidak begitu. Jadi, aku tidak merasakan apa yang dirasakan ibuku dulu. Positifnya adalah aku tidak perlu ikut mendengar pembicaarn wali kelas dengan orang tua yang nilai anaknya kurang atau tidak memuaskan. Entah kenapa aku kurang menyukai hal tersebut.

Tentang sekolah di Jerman: Tahun Ajaran Baru.

Penilaian Rapor Sekolah

Rapor dalam bahasa Jerman disebut dengan Zeugnis. Di sini anak-anak mendapat satu lembar kertas yang berisi penilaian kinerja anak di sekolah.

Di kelas satu dan dua karena tidak ada ulangan sama sekali, maka penilaiannya bukan dalam skala angka. Wali kelas akan menjabarkan bagaimana kemampuan anak di mata pelajaran Matematika dan bahasa Jerman. Selain itu, ada juga penilaian tentang kemampuan bekerja dan kemampuan sosial.

Oh ya, sebelum mendapat Zeugnis yang serius di akhir tahun ajaran kelas satu, anakku mendapat rapor ganti semester yang ada gambar hewan yang menjadi maskot kelas. Ini gurunya sendiri yang membuatkan untuk tiap anak. Keren, ya?

Di kelas tiga dan empat anak-anak baru mendapat rapor yang berisi angka. Sama seperti di kelas satu dan dua, rapor mereka dibagikan dalam bentuk satu buah kertas saja. Hal ini berbeda dengan sekolah di Indonesia yang biasanya rapor dalam bentuk buku.

Di dalam rapor tersebut akan tertulis semua mata pelajaran beserta masing-masing nilainya. Misalnya ada mata pelajaran yang tidak diambil, maka akan tertulis tidak diambil. Jika mata pelajaran ada yang belum dapat di bagian nilai akan diberi tanda strip.

Sistem nilai di Jerman menggunakan angka 1 sampai 6. Satu adalah nilai terbaik sedangkan lima adalah yang levelnya paling bawah. Penjelasan dari arti nilai tersebut adalah…

  • 1 berarti sangat baik.
  • 2 berarti baik.
  • 3 berarti memuaskan.
  • 4 berarti cukup.
  • 5 berarti kurang.
  • 6 berarti tidak memuaskan.

Adapun secara umum nilai tiga dan empat menunjukkan bahwa kinerja anak pada mata pelajaran tersebut sudah memenuhi ketentuan, sesuai harapan. Namun, Perbedaan antara nilai tiga dan empat adalah nilai empat menunjukkan bahwa anak masih memiliki kekurangan dalam pelajaran tersebut yang perlu diperbaiki.

Tentang sekolah di Jerman: Elternsprechtag.


Lalu, apa peran orang tua dipembagian rapor ini?

Jika yang dimaksud adalah keterlibatan secara langsung saat momen pembagian rapor, tentu jawabannya tidak ada. Orang tua menunggu di depan gerbang sekolah bersama dengan orang tua murid lainnya. Yang kuamati tidak semua anak menunjukkan rapor ke orang tuanya saat bertemu di gerbang sekolah.

Lain halnya dengan anakku yang begitu bertemu denganku sudah tidak sabaran untuk menunjukkan hasil belajarnya di sekolah. Itu pun saat aku sedang mencerna tulisan bahasa Jerman yang ada di rapornya, anakku itu tidak berhenti bicara mengenai penilaian di rapornya dan juga rapor teman-temannya hihihi…

Tentu saja orang tua tetap terlibat dalam pendidikan anaknya. Saat hari pertama masuk sekolah setelah libur, anak-anak diminta membawa rapornya. Bukan untuk dikumpulkan sepertiku dulu melainkan untuk ditunjukan saja apakah orang tua sudah menandatangani rapor tersebut.

Tidak lama dari pembagian rapor tersebut akan ada pertemuan wali kelas dan orang tua murid. Disinilah waktunya anak dan orang tuanya mengobrol bersama wali kelas membicarakan kinerja anak selama semester tersebut.

Tentang sekolah di Jerman: Elterngespräch.

Kira-kira seperti itu gambaran pengambilan rapor di sekolah. Jika teman pembaca Michdichuns punya pengalaman lain, boleh loh berbagi denganku melalui kolon komentar.

Salam,

-ameliasusilo-

Silakan tinggalkan komentar anda disini..