Kesehatan Mental

Jurnal Proyek Rawat Diri: My Expectation vs My Reality

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Topik harapan dan kenyataan adalah tema menarik untuk dibicarakan khususnya ketika aku ngobrol bersama ibu-ibu. Inginnya begini tetapi kenyataannya begitu. Inginnya kesana tetapi kenyataannya ya masih disini-sini saja. Ada yang stres karena tidak dapat menggapai harapannya. Ada juga yang santai karena menganggap rejekinya belum sampai di titik mencapai harapannya.

Aku termasuk kelompok satu, yaitu golongan orang-orang yang stres jika harapannya tidak tercapai. Sejak kecil aku terbiasa untuk memperoleh apa yang aku inginkan dan harapkan. Baik itu melalui usahaku sendiri maupun dengan bantuan kedua orang tuaku. Tidak semuanya sih. Sebab jika sesuatu yang kuinginkan mahal harganya, orang tuaku juga tidak akan mengijinkan. Lain halnya jika sesuatu yang kuinginkan bukan dalam bentuk barang. Mayoritas keinginanku biasanya dipenuhi.

Oleh karena itu ketika aku mulai dewasa, mulai bersosialisasi dengan banyak orang, muncul stres di diriku. Sebab apapun yang aku ekpektasikan untuk pencapaiannya kadang kala harus mengkondisikan dengan keadaan maupun kepentingan orang lain. Menghadapi stres ini menantang dan melelahkan. Tapi ternyata bersinggungan dengan orang lain kadang kala lebih ringan tantangannya dibandingkan dengan bersinggunan dengan suami dan anak, keluarga kita sendiri.

Tantangan Mengenali Ekspektasi dan Mengakui Realitas

Tantangan di hari ke-3 adalah bagaimana diri mengenali ekspektasi dan realitas. Sebelum membahas lebih banyak, aku ingin menuliskan definisi dari ekspektasi dan realita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ekspektasi adalah pengharapan. Realitas adalah kenyataan.

Jika hal ini ditanyakan kepadaku 2 – 4 tahun yang lalu jawabannya mungkin tidak tahu. Ekspektasi yang kumiliki kadang secara tidak sadar telah kujadikan sebagai standar. Sehingga akhirnya menjadi ngotot dan ngoyo kemudian baru menyerah, ibaratnya, di titik darah penghabisan.

Hasil berdiskusi dengan seorang teman baik yang menyadarkanku tentang ekspektasiku selama ini berhasil membuka mataku lebar-lebar ada sesuatu yang harus dibenahi. Kesempatan yang kuperoleh untuk belajar mengenali diriku sendiri, membenahi diriku dan memperbaikinya, menyebabkan aku sedikit demi sedikit dapat mengenali batas tentang ekspektasi ini.

Sumber gambar: Facebook Fanspage Jurnal Ibu Pembelajar

Sebelumnya aku mengungkapkan bahwa ekspektasiku terhadap sesuatu jika bersinggungan dengan suami dan anak lebih menantang. Contoh sederhana adalah mengenai ekspektasi untuk meletakkan barang-barang di tempatnya. Aku memiliki kebiasaan untuk meletakkan barang di tempatnya, mengatur barang-barang agar terletak rapi dan mudah untuk dicari. Ketika kemudian suami dan anak berulang kali tidak melakukan hal tersebut tentunya membuatku jadi gregetan. Ekspektasi untuk memiliki apartemen dengan barang yang tertata rapi tentu tidak bisa selalu direalisasikan.

Apa yang Aku Lakukan

Setelah tersadarkan aku berusaha untuk menentukan batas-batas tentang ekspektasi ini agar jangan sampai ekspektasi ini menjadi sebuah pedoman maupun standar. Berusaha mengenali kemampuan dan mengakui keterbatasan yang ada. Lalu memikirkan kompromi apa yang bisa disiapkan.

Contoh yang terjadi di kehidupan beberapa orang. Sumber gambar: Canva yang telah dimodifikasi oleh penulis.

Usaha ini lebih mudah kuterapkan ketika aku mulai belajar tentang mengenali diri. Ketika aku mulai mengenali diriku, mudah bagiku untuk mengenali dan memahami orang lain, terutama suami dan anak. Seperti ada alarm di dalam diriku ketika aku sudah mulai melewati batas-batas ekspektasi. Sudut pandang melihat dan memahami sesuatu otomatis berubah.

Dalam proses belajar dan berubah ini juga tidak mudah. Namun aku perlu untuk sadar, sehat dan waras. Usaha yang paling mudah agar kewarasanku sebagai seorang manusia, khususnya sebagai seorang istri dan ibu, agar tetap terjaga adalah dengan berdamai secara cerdik. Apakah itu?

Ilmu yang kupelajari di komunitas Ibu Profesional banyak membantuku dalam mengatur strategi berdamai dengan cerdik. Contohnya antara lain menerapkan strategi jika tidak bisa dengan ketentuan A ubah ketentuan B. Fokus pada kekuatan dan keunikan yang dimiliki dari masing-masing anggota keluarga. Latih dan percayakan. Kemudian menerapkan komunikasi produktif dan tidak boleh lupa untuk mengapresiasi. Kumpulan ilmu ini kuracik sesuai kebutuhanku dan disesuaikan dengan kondisi keluarga kami. Beberapa hal juga kuterapkan ketika aku bersosialisasi dengan orang-orang di luar lingkaran keluarga.

Hasil dari belajar dan latihan yang kulakukan adalah aku dapat menentukan ekspektasi yang lebih dapat direalisasikan. Sehingga realitas yang kuraih pun jika memang tidak bisa 100% tepat masih bisa dapat ditoleransi.

Evaluasi

Masih belum ada yang bisa dievaluasi karena aku sedang dalam proses untuk terus mengenali ekspektasiku sendiri dan berdamai dengan realitas yang kuhadapi. Namun aku di tahun ini jauh lebih baik dibandingkan aku beberapa tahun yang lalu.

Rencana

Belajar untuk terus mengenali diri sendiri dan melatih ilmu yang kudapatkan. Lebih berdamai dan adaptif terhadap capaian yang diperoleh. Namun tetap semangat untuk berusaha mencapai yang lebih baik dengan cara yang membahagiakan.

Apresiasi Diri

Untuk menghargai proses perubahan yang terjadi pada diriku dalam usaha mengenali ekpektasi dan menerima realitas, aku berikan dua hati.

Sumber gambar: Canva yang telah dimodifikasi oleh penulis.

Salam,

-ameliasusilo-

Referensi:

  • KBBI Daring. Ekspektasi. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ekspektasi
  • KBBI Daring. Realitas. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/realitas

Silakan tinggalkan komentar anda disini..