Rutinitas Ibu di Perantauan
Kegiatan Ibu

Rutinitas Ibu di Perantauan

Rutinitas ibu di perantauan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ibu yang ada di Indonesia. Bedanya mungkin karena di sini kemungkinan besar tidak dikelilingi keluarga dan kemudahan-kemudahan yang memungkinkan ibu untuk mendelegasikan tugasnya sehari-hari. Aku mencoba mendeskripkan rutinitas ibu di Jerman yang selama ini kulakukan.


Hai teman pembaca Michdichuns!

Ibu yang merantau memiliki tantangan keseharian yang sama. Hidup di perantauan berarti hidup mandiri karena biasanya jauh dari keluarga. Belum lagi adaptasi dengan kebiasaan dan kebudayaan setempat yang mungkin sekali berbeda dengan kebiasaan dan kebudayaan di tempat asal.

Ibu perantau ada yang mampu bertahan dan bertumbuh. Ada pula yang tidak kuat dan stres karena perubahan yang dihadapi. Semuanya kembali lagi pada masing-masing individu ibu.

Rutinitas ibu di perantauan bisa jadi overwhelming jika tidak memiliki strategi yang baik. Absennya bala bantuan dari keluarga dan mungkin juga fasilitas maupun kemudahan yang meringankan tugas ibu, membutuhkan manajemen kegiatan yang baik.

Setelah merantau bertahun-tahun sebenarnya saat membaca tema tantangan menulis (TTM) pekan ketujuh Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) tentang rutinitas aku merasa bingung.

Jelaskan sebuah rutinitas yang khas dalam rumah tangga dari sudut pandang seorang ibu.

TTM 12-18 Februari 2024, KLIP

Apa rutinitasku sebagai ibu yang unik?

Apakah rutinitas sebagai ibu di perantauan yang berbeda?

Ibu Ranah Publik

Aku sudah dua kali mengalami siklus ibu ranah publik – ibu ranah domestik selama tinggal di perantauan. Awal datang ke Jerman statusku adalah mahasiswa. Setelah sekolahku selesai aku di rumah, memang sengaja.

Tiba-tiba aku mendapat rahmat dari Allah berupa kemudahan mendapat pekerjaan disini. Setelah sekian tahun berlalu, saat ini sudah hampir satu tahun aku di rumah karena cuti panjang pasca melahirkan anakku yang nomor dua.

Part timer atau full timer

Bisa dibilang saat aku sekolah dan bekerja, aku banyak menghabiskan waktuku tidak di rumah. Itu saja keduanya sudah dengan sadar kuambil paruh waktu. Mengambil full time rasanya aku belum sanggup.

Sebagai ibu yang aktif di ranah publik, saat itu aku lebih teratur untuk melakukan segala sesuatu. Aku sudah pasti harus bangun pagi untuk persiapan diriku sendiri. Kemudian aku masih harus mengurusi keperluan suami dan anakku.

Rutinitas bersama anak

Sarapan bersama adalah kesempatan bonding-ku yang pertama. Kemudian aku mengantarnya ke Krippe, Kindergarten atau sekolah. Saat mengantar ke sekolah aku sudah bekerja di luar kota. Jadi anak sulungku itu kuantar pagi-pagi sekali.

Setelah itu aku berkegiatan di ranah publik sampai akhirnya waktunya untuk pulang dan menjemput anakku itu. Kegiatan antar jemput adalah kegiatan yang kusukai. Aku bisa bercerita dan menasehati anakku sambil kami berjalan kaki. Anakku juga biasanya menceritakan banyak hal di momen ini.

Ketika anakku masih di Krippe dan Kindergarten sebelum pulang ke rumah kami biasanya mampir ke taman bermain yang ada di sekitar sekolah atau yang searah pulang ke rumah. Meskipun lelah aku suka menemani si sulung bermain. Mungkin karena aku dulu tak begini.

Di rumah kami masih bisa berkegiatan atau bermain bersama. Kadang idenya dari aku tapi sering juga idenya dari putraku itu. Bisa sesuatu yang spontan namun dapat pula yang telah direncanakan.

Ketika si sulung sudah sekolah, kegiatan ekstrakulikulernya banyak. Jadilah, kami hanya beristirahat sebentar kemudian pergi lagi. Lebih lelah lagi tentunya tetapi aku tidak merasa berat karena bisa membersamai putraku itu menyenangkan.

Aku mengantar jemputnya sendiri. Kami berjalan kaki atau naik transportasi publik. Kami tidak punya mobil atau motor. Dulu kalau musim panas tiba kami naik sepeda.

Lalu, bagaimana dengan kegiatan rumah tangga?

Rutinitas rumah tangga

Aku atur untuk selang seling antara masak dan beberes rumah. Walau tentu saja beberes rumah tidak mungkin selesai dalam satu hari kemudian besoknya sudah berantakan lagi dari sudut pandang kacamataku.

Masak sendiri. Beli makanan tentu saja kulakukan tetapi tidak bisa setiap hari. Disamping out of budget makanan yang halal tidak banyak pilihannya.

Beberes rumah pun dibagi berdua suami. Walau masih sering bongkar pasang pembagian pekerjaan rumah, beberes rumah sebagian besar aku yang mengerjakan. Capaian minimal adalah terlihat rapi, tidak ada barang yang terletak sembarangan dan tidak ada kotoran yang menempel di kakiku.

Ibu Ranah Domestik

Aku pikir, aku tidak akan pernah menikmati peranku sebagai ibu yang di rumah saja. Ternyata aku keliru. Aku yang memang senang di rumah ternyata sangat menikmati peran sebagai ibu di ranah domestik.

Namun, aku terbiasa aktif  di luar rumah. Sehingga, saat aku menjalani peran ibu yang aktif di ranah domestik aku tetap tidak berhenti aktif berkegiatan di luar rumah. Aku mencari kegiatan yang bisa kuhadiri, baik sendiri maupun mengajak anak. Aku main ke tetangga. Pembelajaran online menjadi wadah untuk menyalurkan hasratku untuk belajar dan mencari ilmu yang valid.

Walau aku di rumah saja, aku tidak ingin hidupmu monoton. Aku juga ingin tumbuh dan berkembang sebagai seorang manusia. Memaksimalkan potensi yang kumiliki supaya bisa bermanfaat baik untuk diriku sendiri, keluarga dan masyarakat.

Belajar bahasa Jerman

Dulu sebelum aku bekerja belajar bahasa Jerman adalah prioritas. Bahasa Jerman sulit kupelajari sampai mahir. Jika tidak aktif dipakai langsung lupa. Hampir pasti aku belepotan baik saat berbicara maupun menulis.

Karena prioritas aku pun mencari kelas-kelas yang gratis atau kelas yang bayarnya murah. Ikut kelas yang harganya sampai ratusan Euro sudah jelas tidak diijinkan oleh suamiku.

Aku pun aktif mencari informasi. Alhamdulillah aku ketemu sebuah komunitas yang menyediakan kelas percakapan dua kali seminggu. Tidak perlu mendaftar secara resmi. Langsung datang dan setelah selesai kelas cukup bayar satu Euro saja.

Dengan kemampuan bahasa Jerman yang baik akan membantuku saat berbicara dengan guru anakku. Kemampuan berbahasa ini juga menolongku saat anakku dirawat di rumah sakit. Yang paling penting jika butuh mengurus administrasi apapun, aku bisa membantu suami.

Di komunitas yang memang diperuntukkan untuk perempuan multikultural ini aku juga bisa ikut program lainnya. Ada program sarapan bersama, darmawisata, bermain board game dan lainnya. Asyik, bukan?

Kelompok bayi-bayi

Kegiatan bersama anak selain di rumah juga kulakukan bersama dengan program yang ada di berbagai tempat di Hannover. Saat anak pertama aku banyak mengikuti kegiatan berbayar. Untuk anak kedua ini aku hanya ikut satu buah program yang disediakan gratis oleh pemerintah.

Program gratis ini diadakan satu minggu sekali. Sebenarnya aku masih ingin ikut kelas berenang untuk bayi. Tapi aku belum yakin dengan manajemern energiku mengingat saat sore hari aku mengantar si sulung.

Kelas ibu di sekolah si sulung

Dengan aku di rumah saja aku bisa ikut kelas untuk ibu yang diadakan oleh pemerintah di sekolah anakku. Program Rucksack, namanya. Disitu kita diberikan lembar kerja yang memiliki tema-tema tertentu, yang sekiranya dibahas di kelas putraku.

Sambil belajar sambil bisa bercerita macam-macam dengan tutornya. Kadang ada program sarapan bersama.

Saat ikut kelas, anakku yang masih bayi juga ikut serta. Tidak ada masalah.

Undangan makan

Aku paling senang jika ada tetangga yang mengundang makan. Berarti hari itu aku perbaikan gizi. Sebab masakan yang disajikan untuk disantap biasanya sesuatu yang rasanya lezat.

Sebagai ibu yang struggle untuk konsisten masak, setelah diundang makan biasanya memantik semangat untuk bisa menyediakan makanan nikmat di rumah. Aku jadi terinspirasi dari masakan yang kumakan di rumah tetangga.

Sebaliknya, aku juga suka mengundang makan di rumah. Seandainya rumahku selalu bersih dan kinclong setiap hari, aku tidak keberatan sering mengundang. Masalahnya tidak seperti yang kuharapkan. Sehingga aku sering spontan mengundang untuk makan bersama lekan depannya.

Di rumah saja

Yang paling nikmat tentu saja berdiam di rumah. Berdiam dalam arti seharian itu tidak kemana-mana. Aku hanya beberes, masak atau ikut kelas online.

Dengan di rumah saja aku punya kesempatan untuk hadir ke ajakan tetangga untuk main ke rumahnya. Sesuatu yang tidak mungkin kulakukan jika aktif di ranah publik.

Lebih nikmat lagi kalau aku bisa ada kesempatan rebahan. Siapa bilang ibu rumah tangga selalu ada waktu untuk rebahan?

Aku belum tentu bisa rebahan. Punya bayi menyelamatkanku karena aku bisa rebahan sambil menungguinya tidur. Aku lebih baik ikut sekalian tidur atau rebahan sambil update blog, seperti saat ini.


Mau menjadi ibu aktif di ranah domestik maupun publik, aku tetap memiliki rutinitas yang hampir sama. Tidak jauh berbeda kecuali jika aku di ranah domestik punya waktu jauh lebih banyak untuk bertemu dengan banyak orang.

Jauh dari keluarga tidak masalah selama rutinitas yang kulakukan juga mendapat supprt suami. Delegasi tugas rumah tangga mungkin tidak bisa semulus di Indonesia. Tetapi membaginya bersama anak dan suami dapat meringankan tugas kita sebagai ibu.

Bagaimana rutinitasmu sehari-hari?

Apakah ada yang berbeda dan unik?

Salam,

-ameliasusilo-

Silakan tinggalkan komentar anda disini..