Hamil,  Kesehatan Fisik

Pemeriksaan Frauenärztin dan Hebamme selama hamil

Die Frauenärztin: dokter obgyn
Die Hebamme: bidan

Melanjutkan cerita disini, kali ini mau cerita tentang riwayat pemeriksaan yang kudapat selama hamil. Sebisa mungkin aku tidak membandingkan antara apa yang kudapat dan apa yang ditawarkan di Indonesia. Tiap negara punya kebijakan masing – masing, SOP dokter pun ada acuannya masing – masing. Lagipula berhubung ini juga hamil pertama dan ga punya pengalaman di Indonesia jadi apa juga yang mau dibandingkan?

Alhamdulillah.. Aku bisa ketemu dokter kandungan yang baik. Dari awal kami ketemu, si dokter ini sudah memberikan kesan pertama yang bagus. Lokasi kliniknya berada di daerah Kröpcke tepatnya ga jauh dari Operahaus. Karena kami orang asing beliau di awal pertemuan tanya mau bahasa inggris atau bahasa jerman. Setelah tahu kami orang Indonesia cerita tentang koleganya disitu yang juga orang Indonesia dan bahwa beliau ini pernah ke Bali dan senang dengan Indonesia. Setiap periksa USG, suami boleh mendampingi dekat aku supaya bisa lihat ke monitor atau duduk di kursi beliau sambil liat ke monitor si meja kerjanya. Periksanya tidak terburu – buru, penjelasannya tidak dengan bahasa medis sehingga tuan besar bisa ngerti. Kami selalu dikasih waktu buat tanya. Kita bisa di dalem ruang periksa 20 – 30 menit.

Kliniknya sendiri bagus, kebetulan pemilik atau salah satu pemiliknya adalah keturunan Indonesia. Maksudnya bagus? Menurut temen – temenku yang akhirnya juga pindah periksa kesana, lay out kliniknya bagus, besar dan tertata apik. Perawat di bagian penerimaannya pun ramah. Prosedurnya jelas, dijelaskan dan mereka tidak segan mengantar. Perawat di lab ataupun yang bertugas di CTG juga ramah dan helpful. Berhubung banyak orang asing, aku pernah melihat dan mendengar sendiri si perawat ngomong bahasa inggris.

Oya dokter yang periksa selama hamil atau antenatal care bukan dokter yang membantu persalinan. Mereka hanya melayani pemeriksaan sehari-hari di klinik tersebut. Proses melahirkan tidak bisa sama dia. Dokternya nanti tergantung siapa yang jaga di RS.

Pemeriksaan di klinik ini selain oleh dokter dilakukan juga oleh bidan. Pertama kali dateng aku ketemu dokter, selanjutnya aku diminta bikin janji dengan bidan supaya bisa dapet buku pemeriksaan. Perjanjian berikutnya selalu bergantian antara dokter dan bidan. Setauku teman2 yang periksa di klinik yang lain tidak ada pemeriksaan dengan bidan jadi kurang tahu apa prosedurnya begini atau gimana.

buku pemeriksaan kehamilan

Bidannya frau Teschner juga ramah. Selain pemeriksaan perut, dengerin denyut jantung janin, kita selalu bisa konsultasi tanya apa aja sama beliau. Beliau yang ngecek apakah aku udah caribidan bu at di rumah, apakah udah cari rumah sakit, tanya ikut Geburtsvorbereitungskurs, perlengkapan bayi dll.

Waktu tunggu gimana? sebelum ada pemeriksaan CTG paling lama kita tunggu 30 -45 menit, itu udah le labnya. Setelah ada CTG paling lama 2 jam. Menurutku faktor jam yang kita pilih juga berpengaruh sih. Berhubung aku pinginnya kalau periksa selalu ditemenin tuan besar, kita selalu ambil jam sore. Naah semua orang yang kerja atau yang pikirannya sama ya pasti maunya sore dong ya.. Soalnya pas akhirnya aku ada terpaksa ambil janji pagi cuma 30 menit tunggunya.

Setiap dateng hampir selalu diambil darah dan selalu periksa air kencing, tekanan darah dan berat badan. Setelah itu baru tunggu periksa dokter atau bidan. Pemeriksaan di ruang dokter atau bidan ga didampingi perawat, jadi di ruang itu beneran pemeriksa dan pasiennya aja. Hasil pemeriksaan darah yang pertama itu golongan darah, HIV, sifilis dan rubella. Aku dicek juga Chlamydia, gula darah, hepatitis B. Seingetku hanya trimester 2 tidak dilakukan USG transvaginal hanya abdomen ini aku seneng banget. beneran deh USG yang itu selalu bikin degdegan aku tak sukaaaa. CTG dilakukan setelah masuk trimester 3, sebulan pertama kayanya 2 minggu sekali setelah itu seminggu sekali. Deket perkiraan tanggal lahir diperiksa streptokokus. Berhubung bukan kehamilan resiko tinggi, kita tidak dirujuk buat pemeriksaan amniosintesis. Tapi kami dapet rujukan untuk pemeriksaan organ janin di trimester dua. Untuk kali pertama bisa lihat gambar #babywob lebih bagus, tepatnya hidungnya sih dan 90% dokternya bilang ini bayi laki – laki. Oiya CTG yang kita dapetin cuma gambar biasa – biasa aja loh, USG 4 dimensi dan sejenisnya ga ditanggung asuransi, kalau mau ya ekstra bayar.

Selama pemeriksaan tidak ada cerita drama.. Kalau yang bikin dagdigdug setelah periksa CTG trimester 3. Ada beberapa kali hasil CTGnya ga bagus, janinnya kurang aktif jadilah perutku digoyang – goyang, disuruh minum, disuruh cium wewangian Zitrone hihihi.. Enak.. Dua kali dirujuk, sekali ke MHH sekali ke karena hasil CTG menunjukkan kontraksi kuat padahal akunya ga ngerasain apa – apa umur kehamilannya masih dibawah 37 minggu akhirnya diobservasi dan boleh pulang dikasih obat. Sekali ke Friederikensitft ini agak degdegan soalnya “udah masuk usia boleh dilahirkan kalau terjadi apa – apa” tapi boleh pulang karena tidak ada bukaan.


Kami berdua puas dengan dokter dan bidan. Jadi untuk kehamilan berikutnya kalau kami masih tinggal disini insyaallah sama beliau – beliau juga 🙂

Salam,

-ameliasusilo-

4 Comments

Silakan tinggalkan komentar anda disini..