Kesehatan Mental

Jurnal Proyek Rawat Diri: Sarapan Bersama Keluarga

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Siapa yang masih ingat atau mungkin memiliki kenangan indah sarapan bersama keluarga saat kecil dulu?

Jika teman-teman membaca menjawab “iya” atau tanpa sadar otomatis mengacungkan jarinya saat membaca pertanyaan ini, maka teman-teman sama sepertiku. Tooossss..

Sarapan bersama keluarga merupakan salah satu memori indah masa kecil yang kumiliki bersama kedua orang tua dan adikku. Aku bahkan masih ingat menu favorit yang selalu dibuat oleh almarhum ayahku setiap hari Minggu. Menu yang rasanya jika tidak disediakan membuat terasa ada yang hilang.

Menu ini sayangnya belum bisa kubuat sendiri disini. Selama aku tinggal di Jerman hanya sekali akhirnya aku bisa makan menu tersebut. Saat itu ibuku datang berkunjung dan membawa sebagian bahan baku menu tersebut dari Indonesia. Bahan bakunya adalah ikan pindang, petis dan sayur asin.

Karena aku memiliki kenangan indah sarapan bersama keluarga, aku pun berusaha menerapkannya di keluargaku sendiri. Setiap hari Sabtu dan Minggu adalah hari sarapan keluarga kami. Menu yang disajikan tergantung suasana hatiku atau tergantung siapa yang menyiapkannya, aku atau suamiku.

Yang kusukai dari sarapan bersama ini adalah kesempatan untuk mengobrol bersama. Di momen ini kami juga bisa mendengar celoteh si bocah. Kami pun dapat memberikan nasihat-nasihat kepadanya.

Pada salah satu kajian parenting Islam yang kuikuti, ustadzah yang menjadi narasumber di kajian tersebut menyebutkan bahwa ada tiga waktu yang dipakai Rasulullah untuk memberikan nasihat kepada anak. Ketiga waktu tersebut adalah saat makan, saat perjalanan dan saat anak sakit. Semoga dengan mengikuti cara Rasulullah ini, nasihat kami kepada anak kami dapat bermanfaat untuknya.

Tantangan sarapan bersama keluarga

Mba Fardha, mentor di pekan rawat di November ini, memberikan tantangan ini untuk dikerjakan pada hari Sabtu. Tentu saja ini waktu yang sangat tepat bagiku untuk mengerjakan tantangan karena sebelum ada tantangan ini pun aku sudah menerapkannya bersama keluarga setiap akhir pekan. Apabila tantangan ini diberikan di hari kerja tentunya akan jadi tantangan yang tidak bisa dikerjakan karena sejak aku bekerja, aku sudah meninggalkan rumah pagi-pagi. Suamiku pun biasanya hanya punya waktu sekitar 10-15 menit untuk duduk sarapan sebelum akhirnya pergi berangkat bekerja.

Untuk waktu pelaksanaan sarapan biasanya kami tidak memiliki jadwal khusus. Seringnya di akhir pekan ini kami menggabungkan waktu sarapan dan makan siang. Betul sekali kami biasanya melakukan brunch, istilah asing yang digunakan untuk menggabungkan kedua waktu makan ini. Aku pun menyesuaikan menu yang disajikan jika kami melakukan brunch. Aku menyediakan menu-menu berat seperti nasi goreng, nasi gila, pasta, roti sandwich ala Perancis, nasi uduk atau sarapan ala Jerman.

Sumber gambar: Telegram Selfcare Project November 2020

Hari Sabtu sering kali aku meminta suamiku untuk membuatkan sarapan. Senang rasanya jika makanan yang masuk ke perutku memiliki cita rasa yang berbeda. Beda tangan beda rasa masakan kan? Selain itu hari Sabtu aku ada jadwal belajar pagi hari yang biasanya baru selesai sekitar jam 10 pagi. Ketika selesai belajar dan sudah siap makanan untuk disantap tentu menyenangkan bukan?

Peraturan selama sarapan bersama adalah tidak boleh memegang handphone kecuali memang sangat amat dibutuhkan dan darurat. Semua boleh bicara. Ketika ada yang berbicara yang lain mendengarkan. Anakku harus ikut dilibatkan dalam pembicaraan. Ia juga harus duduk dengan baik dan tidak boleh sambil bermain.

Oh ya membiasakan sarapan bersama ini bukan hal yang otomatis bisa dibiasakan. Perbedaan kebiasaan di keluargaku dan suamiku mempengaruhi kondisi ini pada saat awal pernikahan kami dulu. Tentu saja setelah melewati diskusi dan kompromi terus menerus, akhirnya tercipta waktu sarapan bersama yang sesuai dengan keluarga kami saat ini.

Apa yang aku lakukan bersama keluarga?

Hari Sabtu lalu aku memutuskan untuk membuat roti telur seperti yang ada di serial Nusa dan Rara. Di masing-masing rotinya aku mengoleskan saus sambal dan mayonais. Telur kugoreng dengan kuning telurnya yang tiga perempat matang. Jadi ketika kuning telur ini digigit masih dapat merasakan rasa lumer-lumer kuning telur.. nyaaammm.. Aku juga menyiapkan beberapa lembar keju untuk dimakan langsung. Kemudian aku memotong buah khaki sebagai tambahan menu sarapan.

Khusus untuk diriku, aku menambahkan rucolla dan potongan tomat cheri yang diberikan mayonais diatasnya. Aku juga memberikan beberapa butir buah zaitun. Enak sekali rasanya.

Sarapan pagiku. Apa sarapan pagimu?
Sumber foto: Dokumen pribadi

Pada saat sarapan ini kami justru membicarakan tentang handphone hihihi.. Mendekati black friday dan cyber monday ini, suamiku sedang giat mencari handphone untukku. Telepon genggamku yang sudah lama ini perlu diganti supaya bisa support dalam kegiatan-kegiatan yang kulakukan sehari-hari.

Selain itu kami juga membahas tentang membaca nyaring. Sabtu pagi kebetulan aku mengikuti Training on Trainer Read Aloud yang diadakan komunitas Read Aloud Yogyakarta. Ilmu yang kudapatkan tadi pagi dan solusi dari permasalahanku dalam literasi dua bahasa kusampaikan kepada suamiku saat sarapan ini.

Lalu apakah ada pengaruhnya antara sarapan bersama dan tidak? Menurutku ada ya.. Bonding di keluarga kami sudah terjadi di pagi hari. Kadang kala kami juga membahas hari itu akan dihabiskan untuk apa saja. Merencanakan waktu bersama keluarga di hari itu juga jadi lebih jelas. Rasanya jadi lebih berisi dan bahagia jika pagi-pagi sudah duduk makan dan bersantai bersama.

Evaluasi

Menurutku untuk pelaksanaan sarapannya sendiri tidak ada yang perlu dievaluasi. Pilihan menu sarapan mungkin sebaiknya dipikirkan menu-menu sehat juga untuk kedepannya. Menu yang sehat di pagi hari tentu dapat mempengaruhi suasana hati selama seharian itu.

Rencana

Sebenarnya aku ingin ideal bisa sarapan setiap hari bersama keluarga. Tetapi dengan kondisiku yang menjadi ibu yang juga bekerja di ranah publik tentunya aku harus juga menyesuaikan. Agar mendekati kondisi ideal (menurut versiku), aku ingin mencoba untuk mengadakan sarapan bersama keluarga saat jadwalku home office. Tidak ada salahnya mencoba..

Apresiasi diri

Tentu saja aku mengapresiasi diriku dengan memberikan tiga buah hati untuk pelaksanaan tantangan terakhir ini. Sebab sebelum tantangan ini diberikan kegiatan sarapan bersama keluarga, khususnya di akhir pekan, sudah rutin kulakukan.

Sumber gambar: Canva

-ameliasusilo

2 Comments

Silakan tinggalkan komentar anda disini..