Kesehatan Mental

Jurnal Proyek Rawat Diri: Mindful in Motion

Assalamualaikum warohmatullahi wabaraokatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Tantangan hari ke-2 berkaitan dengan kegiatan fisik. Kegiatan fisik tentu saja berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan oleh tubuh kita. Setiap kali tubuh kita bergerak akan terjadi kegiatan fisik disitu. Oleh karena itu tantangan kali ini judulnya Mindful in Motion.

Membahas kegiatan fisik dan gerak tubuh aku jadi teringat kegiatan komponen Komunitas IP Efrimenia di bulan September ini. Dalam rangka hari Olahraga Nasional di Indonesia dan hari Jantung Dunia di bulan September ini kami mengadakan kegiatan Main Bareng Komunitas sebanyak tiga kali melalui platform online Instagram Live. Di Main Bareng Komunitas ini ada tiga orang dokter umum yang menjadi member komponen Komunitas IP Efrimenia yang bergantian berbagi pengetahuannya terkait tema olahraga dan kesehatan jantung.

Berdasarkan rekomendasi dari WHO, kegiatan fisik penting untuk dilakukan oleh semua manusia. Kegiatan yang dilakukan secara teratur dan sesuai dengan rekomendasi dapat mencegah terjadinya penyakit-penyakit non infeksi seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, Stroke dan lain-lain.

Sejak setahun yang lalu sebenarnya aku sudah memulai lebih giat berolahraga. Awalnya jogging tipis-tipis kemudian berlajut mengikuti kegiatan olahraga outdoor gratis yang ditawarkan oleh pemerintah Hannover lalu mulai lari. Sayangnya ketika musim dingin tiba, aku malah jadi malas bergerak. Disamping tidak membeli pakaian olahraga khusus musim dingin, matahari yang lebih lambat terbit dan lebih cepat tenggelam menjadi alasanku untuk tidak berolahraga dan mengurangi kegiatan fisik di rumah.

Di masa pandemi diantara ibu-ibu Indonesia yang berdomisili di Hannover ada yang menginisiasi jalan 10.000 langkah setiap hari. Akupun tertular habit baik ini dan masih meneruskan hingga saat ini (meskipun target 10.000 setelah aktivitas harian normal kembali hanya tercapai hanya hari Sabtu dan Minggu saja).

Tentu saja ketika ditantang oleh mba Itsnita untuk bergerak, aku bahagia karena sudah sejalan dengan apa yang kulakukan. Kemarin aku pun berusaha menantang diriku untuk mencapai target 10.000 langkah.

Tantangan Mindful in Motion

Sejak bulan Agustus lalu aku mengikuti coaching program yang diadakan oleh badan tenaga kerja milik pemerintah setempat. Rutinitas yang aku lakukan setiap pagi pun berubah. Yang tadinya selalu mengantar anak dengan berjalan kaki sekaligus bisa mencapai sepertiga target jalan kaki harus diubah dengan naik sepeda selama 20 menit.

Tadinya aku berencana untuk tidak naik sepeda. Tentunya syaratnya adalah aku dan anakku bangun lebih pagi dan berangkat setengah jam lebih awal dari jam berangkat rutin kami. Rencana tinggal rencana.. Oke tidak perlu sedih, change of plan! Akhirnya aku tetap naik sepeda. Sepuluh menit perjalanan mengantar ke TK dan 10 menit perjalanan ke sekolahku. Naik sepeda ini pun tetap kujadikan latihan berkesadaran dalam berkegiatan fisik.

Aku beruntung sebab dalam diskusi di Telegram Pekan Rawat Diri, mbak Fardha membolehkan naik sepeda sebagai salah satu latihan mindful. Sesungguhnya di tantangan hari ke-2 ini pilihan kegiatan fisiknya adalah yoga, menari atau jalan kaki ringan. Oleh karena itu aku memilih jalan kaki ringan. Untungnya naik sepeda dibolehkan dan sudah kujadikan sebagai latihan.

Sumber foto: FB Page Jurnal Ibu Pembelajar

Meskipun dibolehkan oleh mbak Fardha, tadinya aku tetap berencana untuk menyelesaikan target jalan kakiku. Sayangnya rencana untuk berjalan kaki akhirnya tidak bisa kulakukan sama sekali. Sebab suamiku pulang sudah mendekati waktu matahari tenggelam. Target 10.000 biasanya bisa aku selesaikan dalam waktu satu jam. Jika aku nekat pergi maka ditengah jalan sudah gelap. Hari itu aku hanya mendapat sekitar 3000 langkah dan 40 menit naik sepeda.

Apa yang aku dapatkan?

Pikiran: Pekan lalu ada sebuah kejadian dimana aku meninggalkan anakku ketika naik sepeda. Waktu itu aku tenggelam dalam pikiranku sehingga tanpa sadar diperempatan jalan aku menyeberang dan belok ke kanan sedangkan ia masih berada dibelakang. Untungnya lalu lintas relatif sepi. Ketika anakku berteriak memanggilku aku pun tersadar dari pikiranku. Sejak saat itu aku berusaha selalu bersepeda dibelakangnya atau disampingnya sambil sesekali mengajak anakku bicara dengan kalimat-kalimat pendek. Kondisi seperti ini membantuku untuk tidak tenggelam dalam pikiranku.

Ruteku bersepeda pagi dan siang terbagi menjadi dua. Rute pertama berlangsung selama 10 menit, dari rumah ke TK bersama dengan anakku. Aku bisa sadar dan tidak tenggelam dalam pikiranku kalau aku bersepeda di dekat anakku dan mengajaknya bicara. Ketika anakku mulai ngebut dan meninggalkanku muncul pikiran-pikiran tetapi aku segera sadar dan bisa fokus lagi dengan keadaan.

Rute kedua dari TK ke sekolahku durasinya juga sekitar sepuluh menit. Aku bersepeda sendirian. Seperti biasanya aku mengayuh sepedaku lebih cepat dibanding rute pertama tadi. Pada kondisi ini aku merasa lebih mindful. Aku lebih bisa sadar sedang naik sepeda dan fokus pada jalan serta rambu-rambu yang ada.

Perasaan: Ketika dalam keadaan sadar penuh naik sepeda aku lebih merasakan segarnya udara pagi. Lebih merasakan adanya udara yang masuk dan keluar saat bernafas. Aku juga merasakan gerakan otot saat mengayuh sepeda. Keren yaa.. Pada akhirnya jadi bersyukur bisa naik sepeda.

Evaluasi

Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan khususnya ketika sedang bersepeda bersama anak.

Rencana

Saran dari mbak Fardha adalah latihan untuk perubahan yang cepat antara sadar dan waspada. Tetap fokus pada keadaan dengan eling tetapi tetap waspada.

Apresiasi Diri

Sumber foto: Canva

Aku mengapresiasi diriku dengan tiga hati. Pada saat bersepeda aku mampu untuk tidak membiarkan pikiranku tenggelam dalam berbagai ide yang lompat-lompat. Aku mampu untuk menyadarkan diriku sendiri dengan cepat untuk fokus kembali dalam kegiatan bersepeda bersama anakku.

Alhamdulillah tantangan kedua ini dapat kuselesaikan dengan baik dibandingkan dengan tantangan hari pertama, berkesadaran dengan kegiatan menggunakan air.

Semoga jurnal rawat diri ini dapat memberikan manfaat.

-ameliasusilo-

0 Comments

Silakan tinggalkan komentar anda disini..