Bunda Cekatan Michdichuns
Bunda Cekatan

Jurnal Bunda Cekatan Puasa Kepompong Pekan 1

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.. Bismillahirrohmaanirrohiim.. Jurnal puasa pekan satu akan menceritakan usahaku mencapai target di pekan pertama tahap Kepompong yaitu manajemen ponsel di pagi hari.

cerita puasa tahap Kepompong pekan pertama michdichuns di kelas Bunda Cekatan batch 3
Cerita puasaku di pekan pertama tahap Kepompong kelas Bunda Cekatan batch 3.
Sumber gambar: Canva dengan kreativitas penulis.

Target Puasa

Puasa di pekan pertama berkaitan dengan manajemen ponsel. Pagi hariku bisa lewat begitu saja karena aku biasanya setelah membuka mata, bangun tidur pagi, segera mencari ponsel dan mengaktifkannya hanya untuk mengetahui pukul berapa saat itu. Atau kadang aku mencari ponsel karena alarm bangun tidur berbunyi dan aku ingin mematikannya.

Dampak dari memegang ponsel ini ternyata luas. Aku tidak hanya melihat jam serta mematikan alarm. Biasanya aku akan mulai berseluncur di media sosial. Pertama, mulai dari memeriksa pesan di Whatsapp. Setelah membaca dan membalas pesan yang masuk disana aku segera beralih ke media sosial berikutnya yaitu Instagram. Nah, di Instagram ini yang biasanya menghabiskan waktu lama sebab bukan hanya melihat cerita teman-teman di Instastory, aku juga melihat feed. Jika ketemu berita baru biasanya aku akan mengonfirmasi dengan membuka Google. Begitu seterusnya sampai akhirnya aku sadar dan waktu sudah menunjukkan saatnya bergegas solat dan bersiap untuk pergi kerja.

Padahal waktu yang hilang tadi adalah waktunya untuk ibadah pagi selain solat, mempersiapkan diri dan kebutuhan anak dan suami sebelum kami bertiga meninggalkan apartemen di pagi hari. Sebenarnya aku merasa terganggu. Namun, kebiasaan ini seperti candu. Agak sulit bagiku untuk bisa menghilangkannya dan menggantikan dengan kebiasaan baru yang lebih baik dan sehat.

Aku sebut kebiasaan baru yang lebih baik dan sehat sebab jika aku meninggalkan kebiasaan ini aku bisa menggunakan waktu yang hilang tadi untuk mengerjakan ibadah pagi yang lebih banyak dan fokus mempersiapkan diri dan kebutuhan anggota keluarga yang lain. Aku tidak akan terburu-buru sehingga mood di pagi hari akan baik. Perasaan yang enak, tenang dan nyaman di pagi hari menurutku akan mempengaruhi perasaan di sepanjang hari. Ternyata aktivitas pagi yang tenang dan baik ini sudah pernah ada yang meneliti juga dan memang membuktikan memberikan pengaruh yang lebih baik untuk fungsi kognitif dan mindfulness sepanjang hari (lihat informasi di situs Headspace).

Oleh karena itu aku berniat menjalankan puasa ponsel di pagi hari. Tepatnya puasa ponsel dari bangun tidur sampai dengan pukul 8 pagi saat aku, suami dan anakku berangkat menuju tempat kami beraktivitas seharian. Untuk bisa mengukur keberhasilan puasa aku menetapkan kriteria evaluasi seperti berikut ini:

  • Need improvement: bangun tidur langsung mengaktifkan ponsel dan melihat media sosial direntang waktu bangun tidur sampai pukul 8.
  • Satisfactory: bangun tidur langsung mengaktifkan ponsel untuk melihat jam saja.
  • Very good: bangun tidur tidak langsung mengaktifkan ponsel untuk melihat jam dan sosial media. Namun mengaktifkan ponsel dan memeriksa sosial media direntang waktu bangun tidur sampai pukul 8.
  • Excellent: tidak mengaktifkan ponsel untuk melihat jam dan sosial media sampai pukul 8 pagi.

Cerita Puasa

Apakah aku berhasil menjalankan puasa setiap hari?

Berikut ini adalah jurnalku setiap hari setelah menjalankan puasa selama tujuh hari di pekan pertama tahap Kepompong di kelas Bunda Cekatan batch 3.

21 Maret, Hari 1

Bangun pagi aku berhasil untuk tidak memegang ponsel. Kebetulan pagi ini bangun tidur sebelum alarm di ponsel berbunyi. Tidak lama setelah aku membuka mata, azan yang berasal dari jam yang berada di ruangan lainnya berbunyi. Aku bisa memperkirakan pukul berapa aku bangun tanpa harus melihat jam. Ketika ponsel alarm aktif aku sudah melakukan aktivitas dan hanya tinggal mematikan alarm tersebut saja. Selain itu aku juga berhasil untuk tidak memeriksa pesan di sosial mediaku.

Hari ini aku mendapat badge: Excellent

22 Maret, Hari 2

Alhamdulillah kemarin suamiku akhirnya memasang jam dinding di kamar tidur. Jam tersebut di pasang tepat di hadapan tempat tidur sehingga saat aku membuka mata, aku sudah langsung melihat pukul berapa saat itu. Bangun tidur aku tidak membuka ponsel. Namun sayangnya hal ini tidak bertahan lama sebab aku teringat untuk membuka pesan penting di sosial media. Aku khawatir jika kutunda akan terlupa sampai beberapa hari ke depan.

Hari ini aku mendapat badge: Very good.

23 Maret, Hari 3

Sejak ibu pulang ke Indonesia, anakku tidak mau langsung tidur sendiri. Sudah dua hari aku menemani dia tidur dan ketiduran sampai pagi. Pagi ini aku bangun setelah jam azan berbunyi. Aku langsung terbangun otomatis mengatur nafas dan berzikir. Setelah itu aku langsung solat subuh dan dilanjutkan tilawah. Setelah selesai aku masih ada waktu untuk me time dan aku memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari alternatif transportasi untuk liburan paskah nanti. Aku tidak menyalakan ponsel namun mengaktifkan iPad. Karena di iPad tidak ada media sosial sama sekali aku terlindungi dari godaan berselancar di media sosial. Aku bisa fokus mencari transportasi sampai dengan waktunya bersiap ke kantor dan menyiapkan kebutuhan anak dan suamiku.

Hari ini aku mendapat badge terbaik: Excellent.

24 Maret, Hari 4

Aku hanya tidur tiga jam karena harus mengerjakan pekerjaan kantor. Ketika azan maupun alarm ponsel berbunyi aku terbangun. Hanya saja mataku tidak kuat untuk terus terbuka. Sampai akhirnya bunyi alarm di ponsel ku kembali berbunyi dan saat aku benar-benar sadar memang sudah waktunya bersiap-siap. Karena kurang tidur, aku seperti setengah sadar dan separuh mengantuk. Kemudian tidak sadar aku membuka pesan di sosial media saat mematikan bunyi alarm. Namun, aku segera sadar ketika melihat deretan pesan yang masuk dan jam di ponsel. Aku segera mematikan layar ponsel dan segera kembali kepada aktivitas pagi hari.

Hari ini aku mendapat badge: Very good.

25 Maret, Hari 5

Semalam aku baru sampai rumah hampir jam sepuluh malam. Alhamdulilah dapat undangan dari bapak Konsulat Jenderal Hamburg untuk silaturahmi bersama diaspora Hannover lainnya yang saat ini bekerja di bidang kesehatan. Ketika tiba rasanya mengantuk sekali karena aku kurang tidur dari hari sebelumnya. Oleh karena itu aku setelah menyelesaikan urusan malam hari aku segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pagi hari aku terbangun dengan masih mengantuk dan melewatkan alarm bangun pagi. Untungnya karena beberapa hari terakhir terbiasa tidak melihat ponsel, aku langsung otomatis melihat jam dinding. Sayang sekali hal ini tidak bertahan lama karena sebelum mengantar anak sekolah aku sempat memeriksa jam di ponsel sekaligus membuka pesan di Whatsapp. Ketika melihat banyak sekali pesan yang masuk, aku malah langsung mematikan ponsel kembali. Sebab jika kuteruskan anakku akan terlambat sampai di sekolah.

Hari ini aku berhak memperoleh badge: Very good.

Selain puasa aku juga mengerjakan tantangan 30 hari Kepompong. Jurnal pertamanya ada disini.

26 Maret, Hari 6

Buyar puasanya melihat sosial medianya gara-gara saat selesai ibadah pagi aku teringat bahwa aku punya janji untuk memilih oleh-oleh yang dibawa ibuku. Aku kaget karena saat selesai ibadah di Jakarta sudah siang. Hari ini barang-barang sebagian akan dikirim dan ada pula yang akan diambil ke rumah. Kalau yang mengambil barang sudah datang, tidak lucu juga kan klo iya harus menunggu? Dan lebih menunggu lama lagi kalau aku harus tunggu sampai lewat jam 8 pagi waktu sini.

Meskipun membatalkan sebagian puasa karena alasan yang penting aku tetap tidak ingin membuat dispensasi. Hari ini aku mendapat badge very good.

27 Maret, Hari 7

Hari terakhir puasa pekan pertama di tahap Kepompong ditutup dengan indah karena aku bisa menahan diri untuk tidak melihat jam di ponsel serta membuka media sosial. Aktivitas pagi yang ingin kukerjakan dapat terlaksana semua. Perasaanku jadi lebih tenang dan bahagia.

Di hari terakhir pekan pertama puasa ini aku memperoleh badge excellent.

Insight

Merubah kebiasaan, apalagi menghilangkan kebiasaan buruk sekaligus menambah kebiasaan baru, membutuhkan energi dan konsentrasi tinggi. Setidaknya untukku. Aku merasa strong why yang kumiliki harus terus menerus kusebut supaya aku dapat mengerjakan puasa dengan baik. Afirmasi diri ternyata memang memiliki pengaruh yang besar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam hidup.

Selain strong why aku membutuhkan bantuan lainnya yang lebih nyata. Dalam hal menghilangkan kebiasaan mengaktifkan ponsel aku terbantu dengan adanya jam dinding. Setelah satu tahun pindah rumah akhirnya aku memiliki jam dinding di kamar. Lokasi jam ini tepat berada di depan mataku sehingga saat aku membuka mata aku langsung tahu puku berapa saat itu. Aku jadi tidak memiliki alasan untuk memegang ponsel.

Sayangnya hal ini sering tidak bertahan lama. Biasanya aku mengaktifkan ponsel untuk memeriksa pesan yang masuk di Whatsapp. Aku sering tiba-tiba teringat ada janji atau belum menjawab sesuatu atau bahkan teringat untuk menanyakan sesuatu. Jika ini aku tunda aku khawatir akan lupa. Sampai hari terakhir puasa aku masih belum menemukan kunci bagaimana caranya aku bisa menunda apa yang teringat di benakku ketika puasa ponsel masih berlangsung. Semoga saat aku menjalankan puasa di pekan kedua, aku sudah menemukan jalan keluarnya.

Kegagalan puasaku atau mungkin bukan gagal total ya, sebagian kegagalan menjalankan puasa dikarenakan puasa media sosial pagi hari masih belum konsisten. Akhirnya perolehan badge di pekan ini belum maksimal.

Badge Pekan 1

Rangkuman jurnal puasa pekan 1, puasa ponsel, di tahap Kepompong kelas Bunda Cekatan batch 3
Rangkuman jurnal puasa pekan 1 tahap Kepompong.
Sumber gambar: Tim Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Jika seluruh badge di pekan pertama ini aku jumlahkan kemudian kubagi tujuh untuk memperoleh rata-rata apresiasi diri selama sepekan, aku memperoleh nilai 3 (very good). Hal ini sesuai mengingat aku sudah mampu menahan diri untuk tidak segera mengaktifkan ponsel saat bangun tidur. Namun, aku masih belum bisa mengontrol menghindari diri dari membuka media sosial saat pagi hari ketika jam-jam kritis. Usaha untuk puasa media sosial ini memang perlu usaha yang lebih keras dibandingkan puasa aktivasi ponsel setelah bangun tidur. Menurutku ini terjadi karena masih belum ketemu kunci untuk memudahkan puasa media sosial pagi hari.

Badge puasa pekan pertama tahap Kepompong michdichuns
Badge pekan 1 tahap Kepompong kelas Bunda Cekatan batch 3.
Sumber gambar: Tim Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Apa yang kuraih di pekan ini cukup membahagiakan. Apa yang kurasakan ini ingin sekali kubagikan kepada buddy-ku. Semoga beliau juga mendapatkan perolehan yang sama denganku. Curahan hati dan dukungan semangat untuk mbak Karin kutuliskan di post terpisah, di sebuah surat terbuka berbahasa Inggris. Semoga ia berkenan.

Rencana Pekan 2

Karena di pekan pertama belum bisa membiasakan diri untuk tidak memeriksa media sosial saat pagi hari, aku ingin latihan ini diteruskan di pekan kedua. Bukan hanya puasa sosial media saja tetapi juga puasa aktivasi ponsel setelah bangun tidur. Untuk menambah tantangan, kedua puasa ini akan ditambah dengan puasa marah ke anak dan suami di pagi hari. Alasan kenapa memilih puasa ini akan aku jelaskan di jurnal puasa berikutnya. Aku optimis bisa berhasil mengingat pekan depan aku sudah mulai berpuasa Ramadan, insyaAllah.

Nah, teman-teman pembaca michdichuns apakah pernah melakukan puasa aktivitas yang mengganggu produktivitas sepertiku saat ini? Puasa apakah itu? Tinggalkan ceritamu di kolom komentar ya 🙂

Salam,

-ameliasusilo-

Silakan tinggalkan komentar anda disini..