Bunda Cekatan Michdichuns
Bunda Cekatan

Jurnal Bunda Cekatan Kupu-Kupu Pekan 2 Tujuan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.. Bismillahirrohmaanirrohiim.. Prioritas, tujuan dan langkah untuk mencapai tujuan selama mentorship harus ditentukan di sesi-sesi awal. Oleh karena itu di pekan kedua tahap Kupu-kupu di kelas Bunda Cekatan mentor dan mentee wajib bertemu untuk berdiskusi. Untuk memudahkan para peserta pertemuan ini dilaksanakan secara daring. Alhamdulillah pekan ini aku dapat berkomunikasi baik dengan mentee maupun mentor dengan lancar dan mendapat banyak manfaat dari semuanya.

Start From the Finish Line

Setelah pekan lalu heboh dan cukup merasakan kekhawatirkan tentang siapa mentor maupun mentee yang berjodoh, pekan ini adalah pekan refleksi dan berpikir. Sebagai seorang mentee aku memiliki tugas untuk memikirkan kembali apa prioritas pembelajaran di bidang yang sedang aku pelajari ini. Lalu aku harus menentukan tujuan yang ingin aku capai sehingga kemudian dapat menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan ini. Yang menarik, peserta Bunda Cekatan diminta menentukan tujuan dalam beberapa periode tertentu. Yang paling utama tentu saja tujuan jangka pendek yang sebaiknya dapat diraih selama 6 pekan, yaitu selama mentorship ini berlangsung. Yang berikutnya adalah tujuan jangka menengah (sekitar 6 bulan dari sekarang) dan juga jangka panjang yang target pencapaiannya adalah 1-2 tahun dari sekarang.

Start from the finish line maksudnya adalah apakah kita mengetahui apa yang kita inginkan diakhir dari apa yang sedang kita lakukan, disini khususnya selama mentorship di kelas Bunda Cekatan. Oleh karena itu di pekan ini kita diminta menentukan goal sehingga mampu menyusun langkah-langkah sebagai strategi mencapai tujuan yang telah ditentukan tadi. Namun, menemukan apa yang menjadi capaian akhir kita kadang kala tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.

Kilas balik peta belajarku di kelas Bunda Cekatan batch 3 ada di jurnal Ulat pekan terakhir.

Untuk memudahkan seseorang menemukan apa tujuan yang ingin dicapai dalam waktu dekat sampai jangka panjang hingga akhirnya menjadi cekatan, sebaiknya ketahui dulu hal-hal apa saya yang ingin dicapai. Buat prioritasnya dalam bentuk poin-poin jika ingin memudahkan. Tentukan prioritas yang paling penting mendesak sampai dengan yang penting namun tidak mendesak. Ingat ya, first thing first!

Prioritas Saya

Setelah mengintip kembali peta belajar, melihat apa yang telah dipelajari selama tahap Ulat dan membaca apa yang telah dilatih selama tahap Kepompong, aku menentukan tujuan utama pembelajaran manajemen emosi ini sebagai berikut:

Mampu mengenali pencetus luapan emosi, mengenali bentuk emosi dan mengakui kehadiran emosi tersebut. Tidak hanya emosi saya sendiri melainkan juga emosi suami dan anak sebagai bahan refleksi diri. Kemudian saya ingin mampu mengelola emosi-emosi yang muncul ini dengan lebih baik lagi.

Prioritas yang ingin saya capai adalah:

  • Mampu memenuhi kebutuhan selfcare dasar secara tepat waktu
  • Dapat mengidentifikasi kejadian atau situasi yang menimbulkan luapan emosi
  • Mampu mengakui emosi yang muncul
  • Mengaplikasikan perceptual positioning
  • Menguasi teknik bernafas
  • Membiasakan diri berkomunikasi asertif dan produktif
  • Mindful
  • Mampu menemukan selfcare untuk kebutuhan mental emosional yang aku banget
prioritas dan tujuan mentorship michdichuns kelas Bunda Cekatan batch 3
Prioritas dan tujuan mentorshipku di kelas Bunda Cekatan batch 3.
Sumber gambar: Tim Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Tujuan

Dari prioritas-prioritas yang kususun diatas, aku dapat menentukan tujuan-tujuan yang ingin kucapai pada tiga periode yang berbeda. Yang menurutku paling menantang dari tiap-tiap periode antara lain:

  • Jangka pendek (untuk selebrasi regional): pendataan kejadian yang memunculkan emosi negatif dan perceptual positioning (ini aku peroleh dari hasil ngobrol dengan mentor sebelum membuat tugas ini)
  • Jangka menengah: identifikasi selfcare yang aku banget untuk memenuhi kebutuhan mental emosional
  • Jangka panjang: membersamai anak dan berbagi tentang perjalanan maupun pengalaman belajar mengelola emosi sebagai seorang istri, ibu dan perempuan.

Action Plan

Langkah-langkah yang akan kulakukan untuk mencapai tujuan jangka pendek yang dapat dibagikan saat selebrasi regional nanti adalah tentang jurnal identifikasi luapan emosi selama 15 hari. Dalam jurnal ini nanti akan ada identifikasi situasi atau kejadian sehari-hari khususnya di tengah keluarga yang memicu munculnya luapan emosi. Dari data yang diperoleh ini nantinya akan tampak apa saja penyebab terpantiknya emosi sehingga aku dapat melakukan komunikasi baik itu kepada suami dan anak mengenai situasi-situasi ini. Kemudian dari sini diharapkan dapat ditemukan solusi bersama berupa kesepakatan-kesapakatan yang you win I win. Selain itu pada jurnal ini nantinya juga akan ada pencatatan konsistensi pemenuhan kebutuhan selfcare dasar, yaitu makan dan tidur.

Langkah untuk mencapai tujuan jangka pendek Michdichuns di kelas Bunda Cekatan batch 3
Rencana langkah-langkah yang ditetapkan untuk mencapai tujuan jangka pendek mentorship kelas Bunda Cekatan batch 3.
Sumber gambar: Tim Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Langkah membuat action plan

Mendengar istilah action plan dari Magika dan Kunang-kunang memantik rasa ingin tahuku. Menurutku seorang ibu dikenalkan dengan istilah keren begini pasti ada latar belakang pengetahuan yang menarik. Hasil dari selancar di Google, aku menemukan situs yang menjabarkan tentang action plan dan bagaimana cara membuatnya. Untuk bisa membuat sebuah perencanaan aksi untuk mencapai tujuan kita, ada sepuluh langkah yang disarankan:

  • Tentukan tujuan umum dari apa yang kita lakukan
  • Tentukan tujuan obyektif atau tujuan yang sifatnya lebih spesifik yang berfungsi sebagai penanda kemajuan kita untuk mencapai tujuan umum diatas.
  • Buat daftar langkah atau aksi yang akan dijalankan
  • Susun prioritas dari langkah-langkah tersebut
  • Jika berada dalam sebuah tim, maka lakukan pembagian peran dan tanggung jawab
  • Pengalokasian sumber daya
  • Buat target evaluasi menggunakan metode SMART
  • Bikin timeline
  • Buat template untuk action plan
  • Bila perlu gunakan project management tool untuk membantu kita berada di track yang benar

Bertemu Mentor

Karena kedua orang menteeku cukup aktif, aku memilih untuk memprioritaskan mentee terlebih dahulu. Aku ingin menyelesaikan satu demi satu tugas Bunda Cekatan ini daripada aku melakukannya secara bersamaan. Atas pertimbangan waktu dan mindfulness aku lebih memilih sabar, bertahap tapi pasti selesai. Ada untungnya juga melayani mentee terlebih dahulu sebab aku bisa memperkirakan apa yang harus kulakukan saat aku berganti peran menjadi mentee.

Alhamdulillah kedua lembar digital diatas yang kuberikan ke mentor mendapat pujian. Kata mbak Afifah sudah bagus, runut, jelas dan bisa dicapai. Beliau bersedia untuk dihubungi pada hari Jumat pagi melalui Whatsapp Call.

Mbak Afifah menanyakan secara langsung contoh kasus di rumah yang aku hadapi sehingga beliau bisa memberikan pandangannya. Sesungguhnya melakukan identifikasi ini aku dapatkan dari cerita pengalaman beliau. Oleh karena itu setelah aku menyebutkan salah satu contoh kasus yang menurutku menyulut luapan emosiku, beliau pun menanggapi dengan cerita pengalaman beliau yang mirip. Beliau juga menanyakan apa tantangan yang kuhadapi dan apa yang kuharapkan dari pendataan yang kulakukan itu. Karena beliau memiliki pengalaman belajar mengelola emosi yang cukup banyak dan pernah mengikuti pelatihan tentang ini dan langsung praktik, aku merasa banyak sekali mendapat masukan dan kisah inspirasi yang bisa kuadaptasi. Akhirnya aku malah mendapat solusi untuk permasalahanku. Lantas aku pun ditantang oleh beliau untuk mengidentifikasi hal lainnya dan mempraktikkan solusi tersebut.

Ah, jadi tidak sabar menunjukkan hasil jurnalku kepada beliau nantinya!

Durasi diskusi: 30 menit.

Bertemu Mentee

Meskipun pada awalnya hanya ingin menerima satu orang mentee saja, namun karena kedua rekan siswa yang melamarku memiliki tujuan mentorship yang unik aku, aku akhirnya menetapkan untuk memiliki dua orang mentee. Masing-masing memiliki tantangan dan tujuan yang berbeda.

Mbak Lia

Beliau ini paling cepat bergerak diantara aku sebagai mentee dan menteeku yang lain. Mbak Lia segera menghubungiku di hari Selasa untuk membuat janji temu daring. Akhirnya kami sepakat untuk ngobrol hari Rabu pagi melalui platform Zoom. Tantangan yang dihadapi mbak Lia ternyata mirip dengan tantangan yang kuhadapi sebagai seorang peneliti. Kami bingung bagaimana caranya meringkas hasil riset kami kedalam sebuah kesimpulan yang singkat maupun untuk menampilkannya dalam presentasi yang singkat. Aku pun berbagi pengalaman dan solusi yang kumiliki di tempat kerja. Jika dilihat prioritas, tujuan dan langkah-langkah yang ditetapkan oleh mbak Lia, aku merasa beliau masih on track. Semuanya reasonable dan mungkin sekali dapat dicapai dalam waktu 6 pekan ke depan.

Mbak Lia bahkan mengirimkanku sebuah draf tulisan yang hendak disetorkannya untuk selebrasi regional. Keren banget kan! Manajemen waktu beliau menurutku sudah bagus. Beliau sudah konsisten dan teguh pada pendiriannya.

Durasi diskusi: 15-20 menit.

Mbak Suci

Beliau menghubungiku di hari Rabu dan kami membuat janji Zoompa di hari Kamis pagi. Prioritas yang ditetapkan mbak Suci masih belum mengkerucut sehingga tujuan jangka pendeknya menurutku masih terlalu banyak meskipun bisa dicapai dalam jangka waktu 6 pekan ini. Tantangan yang dimiliki mbak Suci mirip dengan mbak Lia. Hanya saja mbak Suci lebih ke bidang public speaking, membuat slide presentasi dan bagaimana caranya supaya bisa tampil membawakan hasil riset dengan baik. Aku pun dapat berbagi pengalamanku saat membawakan presentasi ilmiah di salah satu kongres pada tahun 2021 lalu. Saran-saran yang kuterima dari kolega di kantor insyaAllah kusampaikan ke mbak Suci sesuai dengan kebutuhan beliau.

Durasi diskusi: 20-25 menit.

Semoga apa yang kubagikan kepada para mentee dan juga cerita yang kusampaikan kepada mentor dapat memberi manfaat bagi diriku sendiri dan beliau bertiga yang mendengarkannya. Kurikulum di tahap mentorship ini sedikit banyak ada perubahan dari batch sebelumnya. Alhamdulillah di tahap ini aku tidak berhadapan dengan kondisi seperti saat batch 2 lalu. Aku berharap proses belajar bersama mentor dan mentee ini dapat berjalan dengan lancar sehingga aku dapat mengambil esensi pembelajaran mentorship kali ini. Jika ini tercapai, maka harapanku saat mengulang kelas Bunda Cekatan ini dapat tercapai. Bismillah..

Salam,

-ameliasusilo

Silakan tinggalkan komentar anda disini..