Hidup di Jerman

Ibu Perantau yang Bekerja di Ranah Publik

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Sejak bergabung di komunitas perempuan Indonesia, Ibu Profesional, aku memiliki pemahaman baru bahwa semua ibu adalah pekerja. Semua ibu bekerja. Yang membedakan adalah di ranah apa sang ibu bekerja. Ada ibu yang bekerja di ranah domestik dan ada ibu yang bekerja di ranah publik.

Aku pernah merasakan kedua ranah tersebut setelah menikah dan memiliki anak. Tantangan di kedua ranah tersebut sudah aku rasakan. Bahkan sampai sekarang pun sedang kuusahakan untuk menaklukan tantangan-tantangan dikedua ranah tersebut. Kenyataan bahwa saat ini aku tinggal di luar negeri menambah tingkat “keseruan dan keunikan” tantangan yang kujalani.

Bila dirunut sejak awal aku tinggal di Jerman ceritanya seperti ini. Awalnya aku adalah seorang ibu yang bersekolah. Anggap saja sama seperti bekerja di ranah publik ya hehehe.. Setelah selesai sekolah aku total bekerja di rumah, di ranah domestik. Sampai akhirnya aku kembali bekerja di ranah publik dan domestik sampai dengan saat aku menulis tulisan ini.

Bekerja di Ranah Publik

Kesempatan untuk bekerja di ranah publik ini sebetulnya tidak sengaja aku dapatkan. Sejujurnya ini di luar rencanaku. Tetapi mungkin ini adalah jalan cerita yang Allah berikan kepadaku. Rejeki yang tidak kutolak. Rejeki yang mungkin merupakan jawaban atas doa-doaku beberapa tahun lalu.

Awal mula cerita bagaimana aku bisa bekerja di negara ini tidak bisa dilepaskan dari program Coaching yang aku jalani tahun lalu. Program Coaching dari Jobcenter ini memang diadakan untuk mendidik ibu-ibu untuk kembali lagi aktif di ranah publik. Salah satu programnya adalah menulis surat lamaran kerja. Tentu saja untuk menulis surat lamaran kerja dibutuhkan lowongan pekerjaan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lowongan pekerjaan ini kudapatkan di saat yang tepat.

Bila teman-teman pembaca tertarik mengetahui program Coaching yang kudapatkan dari Jobcenter dapat membaca ceritanya di tulisan yang berjudul Coaching Program, Apa Itu?

Lowongan pekerjaan yang saat ini aku miliki justru kudapat bukan dari mereka dan bukan pula dari Jobcenter. Sekedar informasi tambahan Jobcenter adalah sebuah biro milik pemerintah yang mengurusi seputar mencari pekerjaan. Back to topic, jadi lowongan pekerjaan ini aku dapatkan dari email yang dikirimkan oleh sekretaris jurusan untuk alumni sekolah masterku.

Aku pun mengerjakan tugas menulis surat lowongan pekerjaan dengan bersungguh-sungguh. Aku pun memperbaiki CV. Setelah tugas ini kukumpulkan, coach di program ini lalu memberikan feedback. Aku pun memperbaiki dan merapikan kembali dokumen-dokumen mencari pekerjaan tersebut. Ternyata surat lamaran yang kubuat ini tidak hanya sekedar tugas, melainkan juga diminta untuk dikirimkan seperti layaknya saat mencari pekerjaan.

Singkat cerita proses penerimaan di tempat bekerja berlangsung dengan cepat. Tidak sampai satu bulan sejak aku mengirimkan surat lamaran pekerjaan tersebut statusku pun berubah menjadi ibu rantau yang bekerja di ranah publik.

Pekerjaanku

Pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku saat ini adalah perpaduan dari kedua latar belakang pendidikanku. Bidang pekerjaan yang memang kuinginkan sejak aku menempuh pendidikan lanjutan disini. Alhamdulillah kontrak kerja yang kudapatkan saat ini masih terbatas. Artinya adalah ketika tidak ada proyek lagi bisa jadi kontrak kerjaku tidak diperpanjang.

Meskipun begitu aku sudah cukup bersyukur. Sebab ditengah kondisi pandemi seperti ini bisa mendapatkan pekerjaan dan dapat bekerja di sebuat tim yang sangat baik adalah sebuah rejeki yang sangat luar biasa. Kesempatan yang memang kuimpikan. Setiap hari yang kujalani selama bekerja merupakan pengalaman berharga.

Saat ini aku mengerjakan sebuah proyek dengan didampingi senior yang lebih berpengalaman. Proyek ini aku kerjakan dari awal. Proyek ini juga berhubungan dengan kepala instasi-instasi lainnya. Akibatnya dengan mengerjakan proyek ini aku memaksa diriku sendiri untuk meningkatkan kemampuanku berbahasa Jerman.

Bayangkan aku harus menulis email ke mereka. Aku menghabiskan waktu cukup banyak hanya untuk menuliskan draft email. Tentu saja hal ini tidak efektif dan efisien. Mau tidak mau aku harus mengkarbit diriku sendiri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jerman dalam waktu dekat.

Karena aku suka dan bisa, aku pun mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku dengan bahagia.

Tantangan Unik dan Seru

Gambaranku saat homeoffice dan anak di rumah karena peraturan lockdown pandemi.
Sumber gambar: Canva.

Ketika meminta izin suami untuk bekerja di ranah publik, beliau memberikan syarat. Syaratnya adalah aku hanya boleh bekerja paruh waktu. Artinya dari 40 jam kerja dalam seminggu aku hanya bisa bekerja kurang dari jam yang umum dimiliki oleh para pekerja. Alasannya adalah agar peran utamaku di rumah, sebagai manajer rumah tangga dan madrasah utama anakku tidak terbengkalai.

Tanpa diberi persyaratan ini pun sesungguhnya aku sudah berpikir tidak akan berkerja secara penuh. Sebab aku tidak yakin mampu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sudah lelah menghabiskan energi bekerja di ranah publik. Pekerjaan rumah tangga ini tentu saja akan bertumpuk jika aku tak mengerjakannya.

Aku ingat pembahasan yang terkait tema ibu bekerja di ranah publik oleh ibu Septi dan pak Dodik di salah satu acara di Ibu Profesional. Agar tidak salah mengutip, kebetulan aku sedang membaca buku Bunda Cekatan dan kalimat yang menyerupai kalimat yang diucapkan oleh ibu atau bapak waktu itu adalah sebagai berikut:

Kalau kita ingin produktif di luar rumah maka kuatkan dulu pondasi kita yang utama dalam mengurus rumah dan anak-anak supaya semuanya bisa berjalan teratur.

Ibu Septi Peni Wulandani, dikutip dari buku Bunda Cekatan cetakan pertama tahun 2015 karya Niken Tf Alimah dkk.

Solusi dari tantangan memperkuat pondasi di dalam rumah ini adalah manajemen waktu dan manajemen pikiran.

Paralel dengan tantangan di ranah domestik, di tempat bekerja pun solusi dari tantangan yang kuhadapi paling utama adalah manajemen waktu. Bagaimana dalam porsi waktuku sebagai pekerja paruh waktu dapat mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya lebih efektif dan efisien bila dikerjakan oleh pekerja full time.

Tantangan berikutnya adalah manajemen pikiran. Bagaimana caranya agar aku bisa mindful dalam bekerja. Ketika membaca artikel fokus dan hadir penuh konsentrasi membaca serta memahami artikel tersebut tidak malah memikirkan ide-ide untuk pekerjaan yang lain. Ketika mengerjakan tugas tidak gampang terdistraksi dengan membaca dan membalas beberapa e-mail yang masuk.

Jadi..

Saat ini aku sedang berusaha memenangkan pertarungan melewati tantangan ini. Mohon doanya ya teman-teman agar aku bisa mendapatkan solusinya kemudian konsisten menerapkannya.

Aku dapat mempraktikan teori yang aku dapatkan sehingga ketika aku bekerja di ranah publik lebih efektif dan efisien. Aku masih memiliki cukup energi untuk bekerja lagi di ranah domestik setelah pulang kerja. Aku pun dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan efektif dan efisien. Kemudian aku dapat tidur dengan bahagia dan bangun keesokan harinya dengan segar.

Salam,

-ameliasusilo-

Sumber gambar featured image: Canva

Silakan tinggalkan komentar anda disini..