Catatan

Hal Penting Yang Kubutuhkan Untuk Mendidik Anakku

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Bermodalkan tekad kuat untuk menyelesaikan tantangan Jurnal Ramadan, sampailah aku ke tulisan ke-13 ini. Tema yang diberikan oleh ibu PJ adalah “essential things I need“. Selain tema ini masih ada dua topik lainnya yang menunggu untuk diselesaikan. Ketiga tema terakhir ini adalah tema yang akan membuatku berpikir lebih dalam, dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya, untuk menuangkannya dalam tulisan.

Apa saja hal-hal penting yang aku butuhkan dalam untuk mendidik anakku?

Berdasarkan kajian online ustadzah Ellina Supendy yang aku dengarkan beberapa waktu, ada tiga tips penting yang sebaiknya dimiliki oleh orang tua dalam mendidik anaknya. Tips penting ini khususnya bagiku, seorang ibu, amat penting untuk selalu diingatkan berulang-ulang. Apalagi dimasa pandemi seperti saat ini, dimana anakku berada bersamaku selama 24 jam. Ustadzah memberikan tiga hal penting yang harus senantiasa dimiliki dalam mendidik anak:

  1. Ikhlas
  2. Sabar
  3. Doa
Sumber: Canva

Ikhlas adalah tips pertama yang disebutkan oleh ustadzah Ellina. Sebagai orang tua kita tidak dapat memilih seperti apa anak yang akan dilahirkan ke dunia. Sebaliknya anak juga tidak dapat memilih orang tuanya. Anak adalah amanah dari Allah SWT. Oleh karena itu niatkan segala sesuatunya tentang proses mendidik anak ini karena Allah SWT.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. … (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika orang tua meniatkan usaha mendidik anaknya karena Allah, maka akan muncul rasa ikhlas dari dalam diri orang tua. Memiliki rasa ikhlas tentunya tidak semudah mengucapkan melalui lisan ataupun menuliskannya dalam tulisan seperti ini. Namun dengan latihan, insyaAllah kita dapat memiliki rasa ikhlas ini.

Sumber: Canva

Tips kedua adalah sabar. Karena kita tidak dapat memilih seperti apa anak kita, maka hendaknya kita menerima keadaan anak kita apa adanya. Penerimaan ini juga dalam bentuk menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak kita. Ketika bersabar insyaAllah akan muncul rasa syukur.

Yang dimaksud bersabar disini termasuk tetap berjalan dengan segala beban dan permasalahan dalam usaha mendidik anak sambil mencari solusi untuk meringankan beban dan memecahkan permasalahan. Yang dinilai oleh Allah pada akhirnya bukan hanya keberhasilan mencapai tujuan akhir dari proses pendidikan tersebut, namun juga bagaimana proses orang tua mendidik anak hingga mencapai tujuan akhir.

Sumber: Canva

Semua tahu tentang kekuatan doa, khususnya bagaimana kuatnya doa dari orang tua untuk anaknya. Doa bukan hanya sekedar lantunan ayat-ayat maupun kalimat-kalimat yang kita ucapkan saat kita menengadahkan tangan ke atas. Kalimat-kalimat yang keluar melalui lisan yang diucapkan dalam kondisi biasa sehari-hari baik saat orang tua bahagia maupun dalam keadaan marah bisa menjadi doa. Kalimat-kalimat yang dibatinkan di hati juga bisa menjadi doa. Oleh karena itu hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berucap. Karena bisa kalimat-kalimat ini diaminkan oleh malaikat bisa terwujud pada anak kita.

Ini menjadi pengingat untukku juga. Betapa sering ketika iman dalam kondisi lemah, akal tidak dapat berpikir jernih karena dikuasai marah, maka akan keluar kalimat yang mungkin sekali tidak menyenangkan. Astaghfirullah.. Batinkan hal-hal yang baik! Ketika sudah terlanjur berkata atau membatin yang kurang baik segera istighfar dan mohon ampun kepada Allah SWT.

Doakan anak kapanpun. Doakan anak saat tidur. Bisa jadi doa ini tidak dikabulkan sekarang tetapi akan dikabulkan di masa yang akan datang. Bisa jadi kita yang sekarang ini menjadi orang baik adalah karena doa-doa, kalimat-kalimat baik yang diucapkan dan dimintakan oleh orang tua kita.

Wallahu a’lam bis showaab. Semoga tulisan ini yang merupakan sedikit ilmu yang kudapatkan dari kajian bersama ustadzah menjadi pengingat untukku pribadi dan dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca.

-ameliasusilo