Elternsprechtag Pertemuan Wali Kelas dan Orang Tua Murid di Jerman Michdichuns
Sekolah

Elternsprechtag: Pertemuan Wali Kelas dan Orang Tua di Jerman

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.. Bismillahirrohmaanirrohiim.. Pertemuan wali kelas dan orang tua murid juga ada di Jerman. Bukan hanya ketika anak masuk sekolah dasar saja loh. Berdasarkan pengalamanku selama ini sejak anak masih berada di Krippe atau playgroup.

Semakin anak besar konten yang dibahas antara pihak institusi pendidikan dan orang tua pun berbeda. Sebenarnya mirip tetapi tidak sama. Seperti apakah pertemuan di sekolah di Jerman yang baru kami lakukan beberapa waktu lalu?

Pertemuan Wali Kelas dan Orang Tua di Jerman

Di Jerman istilah yang digunakan untuk pertemuan antara wali kelas dan orang tua murid adalah Elternsprechtag. Pertemuan ini biasanya diadakan setahun dua kali, yaitu setelah pengambilan rapor semester ganjil dan sebelum pengambilan rapor kenaikan kelas.

Dua buah pertemuan tersebut bisa disebut pertemuan yang terjadwal pasti ada. Jika orang tua merasa membutuhkan pertemuan di luar jadwal ini, tentu saja bisa. Orang tua dapat mengirimkan surat elektronik langsung ke wali kelas atau menuliskan surat dan meletakkannya di map informasi anak. Cara lainnya adalah telepon ke sekretariat sekolah dan menyampaikan permintaan tersebut.

Durasi pertemuan sekitar 15 menit. Alokasi waktu yang diberikan ini sudah termasuk penjelasan dari wali kelas dan tanya jawab. Bagaimana jika ternyata lebih dari itu?

Sejujurnya aku belum pernah melebihi alokasi waktu yang diberikan. Itu aku sudah menanyakan beberapa hal dan wali kelas menjelaskan dengan panjang lebar. Apakah puas?

Sejauh ini iya, puas. Wali kelas anakku dapat menjelaskan dengan jelas dan lengkap. Kadang masih ditambah tips dan saran untuk melakukan sesuatu bersama anak di rumah.

Pengalaman Pertemuan Pertama

Tahun lalu karena suasana dan kondisi tidak memungkinkan, pertemuan tidak dilangsungkan secara tatap muka di sekolah. Wali kelas menelepon masing-masing orang tua di waktu yang telah disepakati sebelumnya.

Walaupun melalui telepon, durasi percakapan yang dialokasikan juga sekitar 10-15 menit. Percaya atau tidak itu rasanya sudah lama loh. Waktu itu wali kelas anakku di awal percakapan menanyakan kabar dan bagaimana perasaan serta pendapatku sebagai orang tua terhadap anak dan sekolah. Setelah itu beliau menjelaskan secara lengkap dan rinci, panjang lebar tentang anak di kelas.

Setelah hal yang paling pokok disampaikan, muncul sesi yang paling kutunggu, yaitu sesi tanya jawab. Wali kelas mempersilakanku untuk menanyakan apa saja, untuk berkomentar atau mengeluh. Aku juga boleh menceritakan tentang anak.

Waktu itu karena baru pertama kalinya menghadapi pertemuan sekolah, aku cukup tegang. Apalagi karena percakapan dilakukan melalui telepon. Terlebih lagi karena apa yang dijelaskan oleh wali kelas ternyata melebihi ekspektasiku. Alhamdulillah..

Pengalaman pertama pertemuan dengan wali kelas pernah kutuliskan tahun lalu di cerita Elterngespraech.

Pengalaman Terbaru

Pertemuan yang terakhir ini berbeda dari pengalaman sebelumnya. Berhubung kondisi dan situasi pandemi sudah membaik, protokol kesehatan juga sudah sangat longgar, pertemuan pun dilaksanakan dengan tatap muka secara langsung.

Sama seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya sekitar satu-dua bulan sebelum masa pertemuan wali kelas dan orang tua murid, wali kelas memberikan surat yang berisi informasi pertemuan. Pada surat yang sama, beliau juga menuliskan alternatif tanggal serta waktu untuk dipilih oleh orang tua murid.

Tiap orang tua boleh memilih minimal tiga alternatif tanggal dan waktu. Jadwal yang diberikan adalah di hari kerja dan antara pukul dua sampai empat siang. Untuk orang tua yang bekerja di ranah publik sepertiku dan suami jadwal ini sebenarnya tidak terlalu pas. Untungnya aku bisa bekerja di rumah sehingga pilihan jadwal bisa disesuaikan dengan jadwal kerjaku.

Setelah memilih waktu yang dirasa sesuai surat tersebut dikembalikan lagi ke wali kelas melalui map surat anak. Sekitar dua minggu setelahnya orang tua murid kembali mendapat surat yang berisi tentang jadwal pertemuan.

Hari pertemuan

Berbeda dari pertemuan melalui telepon, di pertemuan tatap muka langsung ini kami disarankan untuk mengajak turut serta si anak. Tentu saja hal ini aku sambut dengan baik. Ada beberapa alasan yang menurutku baik apabila si anak yang menjadi murid turut serta dalam pembicaraan ini.

Anak bisa mendengar secara langsung bagaimana penilaian wali kelas dan guru terhadap dirinya dan bagaimana reaksiku atau orang tua terhadap penilaian tersebut. Selain itu, aku juga bisa melihat bagaimana reaksinya saat mendengar penilaian tersebut. Dan apakah dia menyampaikan secara langsung uneg-uneg maupun perasaannya bersekolah.

Jam pertemuan yang dilaksanakan setelah pulang sekolah tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di rentang waktu tersebut anakku sudah masuk tempat penitipan anak. Yang perlu kulakukan adalah meminta izin kepada penitipan untuk menjemputnya lebih awal.

Untungnya karena tempat penitipan anak terdapat di lokasi yang sama dengan sekolah, aku tidak perlu mengalokasikan waktu lebih banyak. Aku tinggal datang 20 menit sebelum jam pertemuan. Tepat setelah jam mengantorku selesai, aku bisa segera pergi ke sekolah.

Awal pembicaraan

Pertemuan dilaksanakan di kelas anakku. Sang wali kelas pun menyambut kami dengan hangat dan mempersilakan kami untuk duduk. Kami duduk di kursi dan meletakkan barang di meja kecil yang biasa digunakan anak-anak saat kegiatan belajar mengajar. Sebelum duduk anakku menunjukkan bangku dan mejanya yang katanya ia baru saja dipindahkan tempat duduknya.

Setelah kami duduk dengan nyaman, wali kelas membuka percakapan dengan menyapa kami berdua. Kemudian beliau menyampaikan apa-apa saja yang akan disampaikan saat pembicaraan wali kelas dan orang tua murid ini berlangsung.

Yang kusukai adalah ketika beliau selesai menjelaskan, sang wali kelas segera mengajak bicara anakku. Ia menjelaskan bahwa sudah terjadi pembicaraan sebelumnya antara wali kelas dan murid-murid. Beliau menyampaikan bahwa pada pembicaraan dengan orang tua tidak ada sesuatu yang buruk tentang anak yang akan disampaikan.

Anakku pun mengangguk-angguk saat wali kelasnya mengatakan hal ini.

Pertanyaan di awal pembicaraan

Kemudian beliau tidak langsung pada pembahasan laporan tentang anak. Wali kelas menyampaikan lagi bahwa sebelum mendiskusikan tentang hasil belajar anak, ia ingin menanyakan beberapa hal kepada anak. Ada beberapa hal yang kuingat, seperti beberapa poin di bawah ini:

  • Bagaimana perasaanmu berada disini?
  • Apakah kamu senang pergi sekolah setiap hari?
  • Apakah senang belajar di sekolah?
  • Apa yang disukai di sekolah?
  • Apakah bisa memahami pelajaran di sekolah?
  • Apakah ada masalah di sekolah?
  • Apakah ada masalah dengan teman-teman atau guru di sekolah?
  • Apakah kamu senang bersekolah?

Senang sekali rasanya melihat anakku menjawab pertanyaan-pertanyaan wali kelas dengan santai. Pertanyaan pun diajukan dengan santai dan tidak seperti sedang mewawancara si anak. Di sela-sela pertanyaan wali kelas juga mengomentari jawaban anak dengan riang.

Bahkan setelah pertanyaan pertama tentang perasaan si anak saat itu, wali kelas mengomentari bahwa tentu rasanya aneh berada disini tanpa teman-teman. Kelas sepi dan hanya ada dia, mama dan wali kelas mungkin tidak biasa kemudian beliau menenangkan bahwa kami tidak akan membahas hal buruk tentang anak.

Wali kelas pun menutup awal pertemuan ini dengan menanyakan bagaimana perasaanku tentang anak pergi ke sekolah ini. Senang ya rasanya perasaan kita ditanyakan, diakui dan dihargai terlebih dahulu.

Laporan Hasil Belajar Anak

Di kelas satu dan dua, anak tidak memperoleh rapor. Murid memperoleh laporan hasil belajar yang ditulis dengan menggunakan kalimat-kalimat untuk merangkum bagaimana anak belajar, hasil belajar, keaktifan di kelas dan perilaku. Rapor dengan nilai akan diberikan saat kelas tiga.

Saat pertemuan wali murid dan orang tua ini berlangsung, di hadapan wali kelas terdapat kertas yang berisi hasil pengamatan dan belajar anak. Kertas ini tidak diberikan kepada orang tua melainkan hanya menjadi pedoman saat pembicaraan berlangsung.

Ada beberapa hal yang kuingat menjadi poin-poin umum saat pembicaraan berlangsung, seperti:

  • Tempo anak mengerjakan sesuatu di kelas
  • Kemampuan anak memahami materi pelajaran yang disampaikan
  • Kemampuan anak memahami perintah secara umum maupun tugas
  • Keaktifan anak di kelas
  • Bagaimana perilaku anak di kelas
  • Bagaimana anak terhadap guru maupun teman-temannya di kelas
  • Hubungan anak dengan teman-temannya

Matematika dan bahasa Jerman

Tentunya yang dibahas bukan hanya topik-topik umum yang menyimpulkan bagaimana anak secara keseluruhan. Wali kelas juga menyampaikan bagaimana kemampuan belajar anak di kelas dan hasilnya per tiap pelajaran.

Untuk anak kelas satu dan dua mata pelajaran yang utama adalah Matematika dan bahasa Jerman. Sehingga kedua mata pelajaran ini yang di-highlight oleh wali kelas.

Alhamdulillah secara umum anakku tidak memiliki kendala dalam belajar. Hasil belajarnya menurut wali kelas yang kebetulan mengajar Matematika dan guru lainnya yang mengajar bahasa Jerman sangat baik.

Aku suka sekali bagaimana wali kelas menyampaikan poin-poin positif di awal pelaporan. Jika ada hal yang negatif pun, beliau menyampaikan dengan mengubah laporan negatif itu menjadi sebuah saran untuk anakku dan bagiku orang tuanya. Tidak ada kalimat negatif ataupun menghakimi yang disampaikan oleh beliau saat mengatakan tentang salah satu kekurangan anakku.

Beliau memberikan nasihat yang langsung disampaikan kepada anakku. Disaat yang sama beliau juga memberikan tips tentang apa yang perlu ditingkatkan agar proses belajar anakku semakin meningkat. Contohnya adalah aku diminta untuk membacakan buku atau meminta anak membaca buku kemudian menanyakan konteks bacaan kepada si anak. Tujuannya untuk meningkatkan critical thinking anakku, konsentrasi dan pemahamaan terhadap bacaan.

Gimana tidak senang berada di pembicaraan yang positif seperti ini?

Penutup Pertemuan Wali Kelas dan Orang Tua

Sebelum pertemuan ditutup wali kelas memberikan penilaian guru-guru lainnya secara umum kepada anakku. Alhamdulillah tidak ada guru yang memberikan respon nefagatif terhadap anakku. Beliau menutup laporan hasil belajar dengan menyatakan bahwa beliau sangat puas terhadap anakku dan bahwa anakku adalah anak yang baik, memiliki intelegensi dan sosial yang baik serta cerdas.

Alhamdulillah– Alhamdulillah..

Kemudian seperti biasanya setelah laporan selesai kami, tepatnya aku, diberikan kesempatan untuk bertanya. Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan yang sudah kusiapkan sudah secara tidak langsung kuperoleh jawabannya melalui penjelasan beliau sebelumnya.

Namun, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bertanya. Aku tetap menanyakan beberapa hal yang menjadi perhatianku dan suami. Seperti tentang tempo anak dalam bekerja, daya konsentrasi, kemampuan anak dalam mengerjakan tugas, perilaku saat mengerjakan tugas dan kesukaannya bercerita dan berbicara.

Betapa senangnya diriku saat sang wali kelas mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memang memperhatikan anak. Beliau juga mengonfirmasi kepada anakku kemudian memberikan saran dan solusi-solusi. Saran dan solusi ini disampaikan untukku dan juga kepada anakku.

Selain itu aku juga menyampaikan tentang pengalaman anak saat diperlakukan tidak menyenangkan oleh anak yang lebih besar. Walau hal ini terjadi diluar jam sekolah, tepatnya saat anak berada di tempat penitipan, aku merasa sebaiknya aku tetap menyampaikannya. Lagi-lagi beliau pun menjawab pertanyaanku dan memfokuskan untuk memberi nasihat dan solusi secara langsung kepada anakku.

Puas atau tidak?

Dari pertemuan ini aku, suami dan anak bisa mendiskusikan banyak hal di rumah yang menjadi perbaikan untuk kami bertiga. Tentu saja aku puas dengan pertemuan ini. Banyak hal positif yang menjadi highlight dan solusi terhadap concern aku dan suami selama ini.

Senang sekali berada di sebuah pertemuan yang memberikan banyak hal positif. Meskipun ada kekurangan tetapi dapat diubah sudut pandangnya menjadi sesuatu yang membangun.

Dan yang paling penting, tidak ada membandingkan dengan anak-anak lain. Semuanya fokus terhadap hasil anak dan bagaimana meningkatkan kemampuan si anak.

Semoga pembicaraan antara wali kelas dan orang tua murid berikut-berikutnya juga banyak memberikan sesuatu yang positif seperti ini. Aku dan suamiku pun dengan senang mengatakan kepada anakku bahwa kami bangga kepadanya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Salam,

-ameliasusilo-

One Comment

Silakan tinggalkan komentar anda disini..