Bunda Sayang,  Ibu Profesional

Bunsay #8: Aliran Rasa

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Game Level 8 Kelas Bunda Sayang Batch #5

Aku memilih memulai tantangan di level ini dengan meminjam buku anak yang temanya tentang finansial. Ceritanya tentang dua orang anak kecil yang membangun rumah pohon di kebun rumahnya masing-masing kemudian bekerja sama berjualan barang sehingga bisa melengkapi rumah pohonnya dengan tali untuk naik turun. Di buku ini juga dikenalkan tentang uang dan bagaimana kedua anak tadi memiliki kreatifitas membuat uang versi imajinasi mereka. Setelah membaca buku, anakku meminta membuat uang dan kartu bank dari kertas. Uang dan kartu ini harus kubawa hihihi..

Materi yang kuperoleh di level 8 kelas Bunda Sayang dapat dibaca di cerita: Bunsay #8

Buku lain yang kami baca di awal tantangan adalah buku tentang sedekah. Alhamdulillah di rumah ada buku sederhana tentang sedekah. Dari konsep sedekah yang ada dibuku ini, aku lalu mengajak anakku agar semakin giat bersedekah setiap pagi. Di rumah kami ada uang-uang koin yang aku dan suamiku kumpulkan di sebuah mangkok. Nah uang koin inilah yang digunakan untuk disedekahkan di tempat sedekah yang ada di rumah.

Selain menyediakan tempat sedekah, aku juga menyiapkan celengan. Untungnya ada yang pernah memberikan kado celengan yang bentuknya lucu dan menarik untuk anak. Sehingga anakku pun dapat memiliki rasa memiliki dan semangat untuk menabung.

Selama hari-hari tantangan level 8 aku mendapat kesempatan untuk mengajak anakku untuk berurusan dengan lembaga keuangan. Yang pertama, aku mengajak ia ke bank sentral untuk menukar uang koin. Menukar uang koin ini maksudnya menukar dari uang kertas ke koin maupun sebaliknya. Berkunjung ke bank sentral ini sebenarnya sudah beberapakali dialami anakku. Namun ternyata responnya berbeda. Mungkin karena anakku sudah lebih besar, ia jadi lebih responsif terhadap kegiatan yang aku lakukan. Disini ia juga sekaligus mengenal uang kertas dan uang koin.

Berikutnya aku mengijikan ia untuk mencoba mengambil uang di mesin. Tugasnya sederhana yaitu memasukkan kartu, pencet tombol oke serta mengambil uang yang keluar di mesin. Anakku gembira diperbolehkan melakukan hal yang biasanya hanya dilihat olehnya saja.

Kami juga mendapat kesempatan untuk membahas tentang kebutuhan dan keinginan. Berhubung tantangan level 8 ini terjadi di akhir tahun, di TK anakku mengadakan kegiatan membuat catatan keinginan (Wunschzettel). Disini anak-anak membuat daftar keinginan dan akan ditunjukkan kepada orang tua sebagai hadiah natal. Kami tentu saja tidak merayakan natal. Tetapi permintaan anakku dapat dijadikan referensi untuk kado ulang tahunnya nanti.

Apa permintaan anakku waktu itu?

Ia hanya meminta naik kereta Intercity Express (ICE) dan dibelikan kereta mainan ICE keluaran merk Brio.

Mumpung momennya pas, akupun membahas tentang kebutuhan dan keinginan dengan anakku dengan bahasa dan contoh sederhana. Seperti halnya kereta mainan itu adalah sebuah keinginan sebab kalau pun tidak dibeli tidak menimbulkan kesulitan ataupun hambatan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sampai membuat kita mati seperti halnya makanan. Bila manusia tidak makan maka akan kelaparan. Kalau tidak makan terus ya lama-lama bisa mati. Dengan contoh-contoh yang nyata sehari-hari, anakku alhamdulillah mampu memahami.

Aku juga mengajak anakku ke toko barang bekas. Ketika itu anakku membutuhkan sepatu boot musim dingin yang baru karena sepatu yang lama sudah kekecilan. Kami sudah ke beberapa toko tetapi sayangnya tidak ada sepatu yang sesuai dengan alas sepatu khusus miliknya dari dokter orthopedi. Namanya jodoh dan rezeki, di toko barang bekas tersebut kami menemukan sepatu bermerk yang ukurannya sesuai ukuran kaki anakku dan pas dengan alas kaki khusus miliknya. Anakku sendiri yang memilih sepatu tersebut jadi ketika aku ajak untuk mencari sepatu yang baru, ia tidak mau. Waaah lumayan sekali bisa menghemat hehehe..

Di toko bekas ini kami juga membahas kembali antara kebutuhan dan keinginan. Gara-garanya adalah di toko tersebut juga menjual mainan. Akhirnya aku belikan salah satu dari sekian banyak mainan yang minta dibeli sebagai reward karena anakku mau kuajak berkeliling kota di tengah suhu yang dingin untuk membeli sepatu untuknya.

Aku suka bermain di level ini karena kegiatan yang berkaitan dengan finansial ini terjadi disekitar kita setiap hari dan setiap saat. Finansial dan mengkaitkannya dengan Islam khususnya tauhid juga menarik. Dasar-dasar ini sudah harus dikenalkan sejak anak masih kecil.

Di level ini anak dapat mengenal tentang rezeki, bersyukur, bersedekah dan bagaimana mencari harta yang halal. Anak juga bisa diajarkan tentang kebutuhan dan keinginan sehingga ketika ia minta ini itu bisa diajak berdiskusi dahulu apakah barang tersebut memang menjadi kebutuhannya atau sekedar keinginannya saja.

Semoga bermanfaat ya!

-ameliasusilo-

Silakan tinggalkan komentar anda disini..