Kegiatan Komunitas,  kesehatan

Anak Indonesia di Jerman di Masa Pandemi

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Tulisan ini dibuat untuk menuntaskan tantangan KLIP Writing Challenge bulan Juli 2021.

Mbak Tami yang menjadi penanggung jawab untuk tantangan menulis tiap pekan di KLIP Writing Challenge menantang peserta di kelas literasi untuk menuliskan tentang usaha seorang ibu dalam membersamai anaknya di masa pandemi ini. Membersamai anak, menjaga anak-anak Indonesia agar tetap sehat, melindungi anak-anak generasi Indonesia tetap sehat.

Meskipun kami tinggal di luar negeri, anakku tetap anak Indonesia. Oleh karena itu aku merasa tantangan ini masih relevan dan berniat berbagi cerita melalui tulisan di blog.

Tentang Peran Ibu Selama Pandemi

Kondisi aktual di masa pandemi antara Indonesia dan Jerman berbeda. Saat ini meskipun jumlah kasus baru di Jerman mulai meningkat kembali, jumlahnya masih jauh lebih sedikit daripada yang terjadi di Indonesia. Walaupun begitu, aku tetap waspada dan sadar bahwa pandemi COVID-19 ini masih belum berakhir. Kami masih harus berhati-hati, menjaga protokol kesehatan dan menjaga kebugaran tubuh, kesehatan fisik dan mental selama berada di situasi pandemi.

Menjaga diri sendiri, menurutku, lebih mudah daripada menjaga maupun mengingatkan orang lain. Sebagai seorang ibu, tentu saja meskipun sulit tetap harus mengambil peran tersebut. Sebab yang diingatkan, khususnya perlu dijaga, adalah anak dan suami. Baiklah supaya tidak melebar mari kita kembali fokus hanya membahas tentang anakku saja.

Menurutku ada beberapa hal yang dapat kulakukan untuk menjaga kesehatan anakku. Beberapa hal yang kutuliskan dibawah ini adalah cara yang insyaAllah selama ini kulakukan.

Membiasakan Protokol Kesehatan

Sejak awal pandemi aku dan suamiku senantiasa saling mengingatkan satu sama lainnya mengenai protokol kesehatan. Hal ini pun berlaku juga untuk anakku. Kami berdua mengingatkan dia, ia pun juga mengingatkan kami, orang tuanya. Di Jerman protokol kesehatan saat ini dikenal dengan istilah AHA+L+A. Berikut ini aku jelaskan kalimat-kalimat dibalik istilah tadi:

  • Abstand halten: menjaga jarak dengan orang lain minimal 1.5 meter
  • Hygiene beachten: melaksanakan etiket batuk dan bersin serta mencuci tangan dengan benar
  • Im Alltag Maske tragen: menggunakan masker di situasi tertentu yang telah ditentukan, khususnya saat berada di ruangan tertutup atau ketika menjaga jarak minimal 1.5 meter tidak dapat dilakukan. Ketentuan masker ini khususnya berlaku untuk anak mulai usia 6 tahun. Jenis maskernya sesuai ketentuan yang berlaku (biasanya tergantung insiden selama 7 hari terakhir)
  • Regelmäßig lüften: membuka jendela ruangan tertutup dengan durasi selama beberapa menit secara rutin
  • Corona-Warn-App nutzen: menginstal dan mengaktivasi aplikasi Corona-Warn-App milik pemerintah Jerman

Sebetulnya yang relevan untuk anak-anak adalah HA. Menjaga jarak bagi anak-anak sungguh sulit untuk diterapkan. Khususnya bila anak-anak sedang bermain. Aku dan suamiku biasanya mengingatkan anak untuk menjaga jarak saat berada di keramaian, misalnya seperti saat berada di dalam transportasi publik atau menyeberang jalan.

Protokol lainnya, membuka jendela dan instalasi aplikasi di gawai, lebih aplikatif bagi orang dewasa.

Di Kindergarten anakku etiket batuk-bersin dan mencuci tangan juga disosialisasikan oleh gurunya. Jadi anakku sudah paham tentang itu. Untuk lingkungan keluarga, kami melakukan praktik, melatih diri untuk membentuk kebiasaan salah satunya dengan cara untuk selalu cuci tangan setelah masuk apartemen dan saat bersin menutup hidung dengan lengan.

Tulisan mengenai Kindergarten selama pandemi dapat dibaca di Kindergarten di Masa Pandemi.

Tes Antigen Mandiri

Sejak awal bulan Juli anak-anak yang berusia 3-6 tahun dianjurkan untuk melakukan tes antigen mandiri. Jadi sekarang setiap pekan anakku 2 kali di tes antigen baik olehku atau suami. Anakku tidak keberatan, dia santai saja setiap kali kami melakukan tes tersebut.

Karena tes ini bersifat anjuran jadi tidak ada kewajiban dan keterpaksaan. Walaupun sukarela, ada formulir yang diisi dan dikumpulkan ke Kindergarten untuk selanjutnya dilaporkan ke pemerintah. Oh ya alat tesnya setiap hari Jum’at dibagikan oleh pihak Kindergarten dengan cara dimasukkan langsung ke tas anak-anak. Pemerintah menyediakan secara gratis alat tes ini dan mendistribusikan ke Kindergarten.

Pengalaman kami sekeluarga tes antigen yang dilakukan oleh petugas profesional dapat dibaca di Tes Antigen Perdana

Menjaga Makan

Nah ini.. karena anakku makannya cukup tricky biasanya aku menyemangati dan memotivasi anakku dengan meminta ia untuk makan supaya badannya sehat dan kuat. Biasanya cukup berhasil meskipun anaknya tetap makan dengan slow motion hehehehe…

Sejauh ini aku tidak menyiapkan menu khusus atau menu sehat. Aku masak masakan rumahan yang disukai olehnya, diriku dan suamiku saja. Intinya makan! Selain itu aku menyiapkan beberapa camilan dan buah-buahan supaya ia semangat untuk makan dan kebutuhan gizinya terpenuhi.

Menjaga Kebahagiaan Anak

Menurutku ini yang agak menantang sebab anak-anak senang bermain. Jadi sementara ini aku dan suamiku berusaha untuk kreatif di akhir pekan untuk mengajaknya bermain dan bersenang-senang di luar rumah. Mumpung situasinya memungkinkan untuk bepergian dan mengunjungi lokasi-lokasi yang ramah anak. Tentunya dengan tetap menjaga protokol kesehatan ya sehingga meskipun berkegiatan outdoor masih tetap aman bagi kami sekeluarga.

Tulisan yang menceritakan usaha kami menjaga kebahagiaan anak diantaranya adalah tentang Mini Golf.

Penutup

Semoga usaha yang dilakukan olehku dan juga ibu-ibu Indonesia semuanya dapat menjaga kesehatan anak-anak Indonesia!

Apakah tips dari teman-teman pembaca untuk anak-anak? Boleh ya dituliskan di komentar siapa tahu bisa menjadi inspirasi dan dapat kupraktikkan juga. Terima kasih sebelumnya 🙂

Salam,

-ameliasusilo-

Referensi:

2 Comments

Silakan tinggalkan komentar anda disini..