Catatan,  Ibu Profesional

Aku Ibu Diaspora, Aku Ibu Rumah Tangga

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sayembara Catatan Perempuan, sayembara menulis Ibu Profesional di Konferensi Ibu Pembaharu dalam rangka Satu Dekade Ibu Profesional.

Menjadi Ibu

Menjadi seorang ibu merupakan sebuah peran yang mulia. Sayangnya sejak kecil tidak ada mata pelajaran di sekolah atau kursus-kursus mengenai bagaimana mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Bila beruntung, ibu dari seorang anak perempuan akan memberikan tips-tips dan memberi contoh menjadi seorang ibu. Bagaimana menjadi seorang ibu dapat pula diketahui melalui pengamatan terhadap ibu kandung maupun para ibu yang berada di sekitar seorang anak perempuan. Kebetulan aku adalah anak perempuan ini yang mendapat tips-tips dari ibuku dan secara mandiri melakukan pengamatan kepada para perempuan dewasa yang telah menjadi seorang ibu di sekelilingku.

Ketika aku menikah dan secara resmi bergelar ibu ada banyak hal yang membuatku surprise. Meskipun aku sudah dibekali tips-tips ala ibuku dan sering melakukan observasi, tetap saja situasi dan kondisi nyata saat menjalani peran tersebut berbeda. Aku pun merasa bingung, kalah, kecil dan sedih.

Ibu Diaspora, Ibu Rumah Tangga

Menetap di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan tinggi adalah salah satu impian saat aku kecil. Impian tersebut ternyata dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan bahkan aku diberikan bonus oleh-Nya. Aku bisa melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus berkesempatan untuk menetap dalam jangka waktu yang lebih lama di luar Indonesia bersama keluargaku. Aku pun resmi menjadi seorang ibu diaspora.

Ternyata menjadi ibu diaspora itu tidak seperti yang kubayangkan. Sebab kegiatan maupun peran apapun yang dilakukan di luar rumah, bagi kebanyakan ibu diaspora kami tetap tidak dapat meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga yang tetap harus memprioritaskan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, mengurusi dan membersamai anak serta suami. Tidak ada asisten rumah tangga atau keluarga yang dapat dimintai pertolongan. Pendelegasian pekerjaan rumah tangga tidak bisa dengan mudah dilakukan. Antar jemput anak sudah pasti harus dilakukan sendiri. Pendidikan yang berkaitan dengan agama, akhlak dan budaya Indonesia tidak selalu bisa dipercayakan kepada orang lain.

Bagiku yang sejak kecil tidak pernah membayangkan akan sibuk oleh pekerjaan dan tanggung jawab di rumah, tentu saja awalnya memiliki banyak masalah. Yang dapat diandalkan untuk berbagi tugas hanyalah suami. Nah, komunikasi antara istri dan suami saja sudah menjadi masalah tersendiri. Jadi sudah terbayangkan ya apa yang terjadi?

Masalah, masalah dan stres!

Masalah, masalah dan stres!
Sumber gambar: Canva.

Ibu Pembelajar

Saat ini jika aku mengingat diriku sendiri beberapa tahun yang lalu, aku akan tersenyum. Aku merasa sudah cukup banyak perubahan yang terjadi pada diriku sejak aku memutuskan untuk memperbaiki diri. Berdiam diri selalu dalam lingkaran masalah yang sama menurutku tidak akan mendapat solusi dan menyelesaikan masalah. Aku memutuskan untuk menantang diriku sendiri. Saat itu aku memutuskan untuk belajar menjadi seorang perempuan, istri dan ibu yang lebih baik. Daripada sibuk menyalahkan suami, anak dan orang-orang lain, lebih baik aku menantang diri menjadi ibu pembelajar. Supaya aku bisa menjadi seseorang yang lebih bahagia dalam menjalani peran di dunia dan menabung bekal untuk kehidupan di akhirat.

Seorang teman baik dan adik merekomendasikan Ibu Profesional sebagai sarana belajarku. Aku pun memutuskan mengikuti saran tersebut setelah aku mencari tahu lebih banyak tentang komunitas perempuan yang cukup besar di Indonesia ini. Aku senang sekali bisa menemukan komunitas perempuan pembelajar ini.

Domisiliku yang berada jauh dari Indonesia bukan menjadi penghalang untuk belajar dan berkegiatan di komunitas ini. Seluruh kegiatan dilakukan melalui media online. Setelah melewati tahap awal masuk komunitas, aku bergabung dengan ibu-ibu diaspora lainnya di regional Efrimenia (dulunya Non Asia). Akupun senang karena merasa tidak sendirian.

Ilustrasi: Belajar meningkatkan kapasitas diri sebagai perempuan, istri dan ibu di Ibu Profesional melalui pertemuan daring.
Sumber gambar: Canva.

Belajar di Ibu Profesional ini menarik dan menantang. Menarik karena dikemas agar masing-masing ibu pembelajar menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga masing-masing. Menantang karena selama belajar aku merasa menggali diri sendiri dan harus jujur terhadap diri sendiri. Jadi ketika aku bertumbuh dan berkembang dari proses belajar ini, aku dapat tumbuh dan kembang sesuai kebutuhanku.

Selama menjadi ibu pembelajar hal unik lainnya yang kurasakan adalah aku semakin merasa berkembang dan berilmu ketika aku memutuskan untuk membagikan ilmu yang kumiliki. Aku pun dapat meningkatkan potensi diri sendiri dan mencari potensi baru untuk mendukung potensi yang sudah kumiliki sebelumnya.

Saat ini aku sudah lebih baik mengenali diri sendiri dan menggali kebutuhan diri. Mindset-ku berubah bahwa pekerjaan di rumah ini bukan masalah tetapi tantangan untuk naik kelas jadi ibu rumah tangga yang lebih keren. Aku jadi lebih memiliki wawasan tentang peran sebagai perempuan, istri dan ibu. Aku lebih bahagia. Hubungan dan komunikasi ke anak dan suami pun jadi lebih baik.

Aku masih tidak menyukai beberapa pekerjaan rumah tangga. Namun saat ini berbeda sebab aku sudah tahu cara mengelolanya. Rumahku jauh lebih rapi, urusan di dapur jadi lebih menyenangkan, aku lebih kreatif saat membersamai dan mendidik anakku.

Berkarya, Berbagi dan Menebar Manfaat

Ternyata betul..

Pada saat aku sudah mengenal diri dan bahagia, kondisi di rumah jadi lebih kondusif. Aku bisa lebih banyak berkarya. Aku pun bisa lebih percaya diri berbagi kepada para perempuan lainnya. Yang lebih keren lagi adalah karena aku bergabung di sebuah komunitas, maka karyanya bisa lebih banyak. Dampaknya pun bisa bermanfaat bagi para perempuan yang lebih luas lagi. Dari rumah untuk dunia.

Yang menarik adalah sekali berkarya dan berbagi kemudian mendapat feedback tentang manfaat yang dirasakan oleh ibu-ibu yang lain, jadi ketagihan untuk produktif berkarya dan berbagi. Untungnya di Ibu Profesional aku bisa belajar berbagai media untuk berbagi. Sebagai ibu diaspora, aku dapat berbagi cerita dan pengalaman yang tidak hanya berguna bagi sesama ibu diaspora tetapi juga ibu-ibu yang ada di Indonesia. Dari aktivitas di apartemen kecil ini, ternyata insyaAllah bisa menebar manfaat ke seluruh dunia.

Tahun 2021 ini adalah satu dekade Ibu Profesional. Di bulan Desember nanti akan ada perayaan sekaligus Konferensi Ibu Pembaharu. Di konferensi ini kita bisa bertemu ibu-ibu lainnya yang keren dan hebat. Ibu pembelajar yang produktif berkarya, berbagi dan memberi dampak bagi keluarga dan masyarakat. Bila ikut konferensi ini sepertinya kita akan tertular energi positif dan akan tergerak untuk berkarya dan menebar manfaat. Jangan sampai ketinggalan pendaftarannya!

Penutup

Aku ibu diaspora. Meskipun saat ini aku bekerja paruh waktu di ranah publik, aku tetap seorang ibu rumah tangga yang bekerja full time. Aktivitas seluruh anggota keluarga di rumah, biasanya terganggu jika sang ibu rumah tangga oleng. Oleh karena itu prioritas utamaku adalah keluarga dan rumah. Pengalaman dan pelajaran kehidupan di tanah rantau membuatku semakin menghargai peran ibu rumah tangga.

Aku ibu diaspora, aku ibu rumah tangga, aku berusaha untuk selalu produktif di rumah dan aku bangga akan peranku saat ini.

Salam,

-ameliasusilo-

#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

Silakan tinggalkan komentar anda disini..